Romo Paschal Protes Terdakwa Vonis Mati Penyiksa TKI NTT Adelina Sau Bebas

Romo Pascal dan Terdakwa Ambika

KUPANG- Keputusan Pengadilan Malaysia membebaskan Ambika majikan TKI Adelina Lisao Senin 22 April 2019, mengundang protes dari para aktivis, termasuk rohaniwan Katolik Indonesia.

Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus atau akrab disapa Romo Paschal yang bertugas di Batam, Provinsi Kepri angkat bicara. Romo Pascal menilai putusan pengadilan negeri jiran itu sangat tragis. Bahkan secara akal sehat tidak bisa diterima.

“Kalau kita menelusuri dakwaan yang dimuat media internasional, Adelina disiksa dan tidur bersama anjing piaraan majikan. Lalu karena disiksa meninggal dunia. Adelina adalah korban. Pada apa yang diputuskan pengadilan Malaysia adalah penegakan hukum tragis, buruk sekali,”ungkap pria yang juga menjabat Koordinator Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Kepri Selasa (23/4/2019).

Romo Pascal mengatakan, terkait keputusan bebasnya Ambika,  pemerintah Republik Indonesia harus mendesak pemerintah Malaysia untuk mengkaji ulang putusan terhadap pelaku.

“Saya baca berita konsulat sudah mengirim surat ke Jaksa setempat. Bagus itu. Tapi lebih baik, kami minta pemerintah Republik Indonesia mengawal kasus ini dan minta agar dikaji ulang putusan itu. Apakah metode hukum setempat bisa banding atau peninjau kembali seperti hukum eropa continental yang kini dipraktikkan di Indonesia?, “kata Romo.

Romo Pascal sangat menghargai putusan pengadilan setempat karena masalah kedaulatan. Akan tetapi, sulit diterima akal sehat putusan yang diberikan. Rasa keadilan seolah teriris. Dan luka mendalam itu masih tersisa bagi keluarga korban di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan Republik Indonesia.

“Pelaku majikan Adelina haruslah dihukum setimpal dengan perbuatannya. Di Malaysia pelaku pembunuhan dihukum mati,”tegas Romo Pascal.

Diberitakan sebelumnya, Pengadilan Tinggi Malaysia, sebagaimana dilaporkan laman Free Malaysia Today , membebaskan Ambika dari semua gugatan pada 18 April 2019 sesuai dengan permintaan dari pihak kejaksaan.

Sebelumnya, Ambika digugat dengan Pasal 302 Hukum Pidana Malaysia yang memuat ancaman hukuman mati setelah diduga menyiksa Adelina, seorang tenaga kerja wanita asal Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Adelina, TKW asal NTT itu meninggal dunia pada 11 Februari 2018 lalu akibat kekerasan yang dilakukan majikan terhadap dirinya di Pulau Penang, Malaysia.

Adelina tewas dengan kepala dan wajah bengkak serta penuh luka. Dia diduga disiksa dan dipaksa tidur di luar rumah dengan seekor anjing.

(Alle)