Nale dan Isyarat Semesta Yang Hidup Dalam Kalbu Orang Mingar

#Festival Nale 25 Februari 2019#

Nale dan Isyarat Semesta Yang Hidup
Dalam Kalbu Orang Mingar
(Hengky Ola Sura)

Satu lagi yang memukau dari Lembata. Destinasi yang layak juga untuk dikunjungi adalah wilayah pantai selatan Mingar.

Secara administratif wilayah ini masuk dalam Kecamatan Nagawutung. Jika datang ke Lembata rasanya belum lengkap jika jejak kaki tak terpatri ke pantai pasir putihnya yang eksotis.

Saking eksotisnya pasir putih maka nama desanya pun jadi Desa Pasir Putih. Jarak tempuh dari Lewoleba dengan bus kayu makan waktu dua jam.

Sepanjang perjalanan dari Lewoleba ke Mingar bukit-bukit sabana berdiri tegar meyapa. Mingar memang punya pasir putih dengan garis pantai panjang, yang mencapai tiga kilometer lebih.

Ombak yang membumbung tinggi khas pantai selatan adalah pemandangan yang unik. Ombak di pantai pasir putih Mingar adalah ombak yang berceracau.

Berisik dan jadi serupa alunan yang seolah minta disolek, bisa lebih terkenal kalau jadi arena selancar dan fun surfing.

Dari ceracau berisik ombak yang paling banter untuk diingat dari Mingar-Pasir Putih, adalah tradisi penangkapan ikan nale (bahasa Indonesianya nyale).

Jika dalam tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera ada teriakan Baleo-baleo-baleo, maka Mingar punya duli gere-duli gere-duli gere.

Teriakan ini sebenarnya yel-yel kebahagiaan akan datangnya nale.

Orang Mingar percaya bahwa nale adalah jelmaan dari wujud teringgi yang datang untuk mengabarkan semacam isyarat semesta, bahwa tahun yang lagi diajalani adalah tahun penuh kesuburan dan kelimpahan makanan, dari ladang-ladang petani terisi begitu juga hasil tangkapan ikan dari melaut berlimpah.

Wujud nale yang muncul setiap tahun adalah serupa koloni cacing yang berwarna hijau keemasan.

Yoris Muda, warga Mingar bilang ketika nalenaik ke permukaan dan membentang itu seperti bentangan motif sarung serupa permadani yang cantik. Apalagi ditingkap obor yang bernyala dari warga yang datang mengambil nale.

Proses pengambilan nale yang biasanya terjadi pada bulan Februari dan Maret itu pun melalui ritus adat.

Suku yang dipercayakan sejak kemunculan nalepada masa purba hingga sekarang adalah Suku Ketupapa. Suku inilah yang pertama kali mendapat semcam ilham untuk mengambil nale.

Menurut Lukas Labi (76), nale pertama sekali itu diperkenalkan oleh dua laki-laki yang bernama Srona dan Srani. Entah dari mana asalnya, kedua tokoh inilah yang ditugaskan oleh panglima dari suku mereka untuk mencari nale, yang pergi dari perairan kampung mereka.

Dalam perjalanan dan penglihatan mereka, nale rupanya berada di seputaran perairan wilayah Mingar.

Oleh dua laki-laki dari Suku Ketupapa yang bernama Belake dan Geroda, yang secara tidak sengaja berjumpa dengan Srona dan Srani tadi terjalinlah persahabatan.

Belake dan Geroda lalu mengajak Srona dan Srani menuju kampung Mingar untuk bertemu dengan sesepuh kampung yang dan semua penduduk.

Srona dan Srani lalu jadi bagian dari keluarga besar Mingar dan berdiam bersama orang Mingar.

Kepada warga yang menerima mereka secara baik dan penuh dengan penghormatan, Srona dan Srani pun memberikan petunjuk cara mengambil nale yang telah ada di perairan laut Mingar.

Intinya sebelum proses pengambilan dimulai, semua yang hendak turun ke laut harus bersih secara lahir batin. Ritus untuk pengambilan nale biasanya terjadi pada bulan Januari atau Februari dan terjadi di Batu Koker Nale.

Waktu untuk mengambil nale pun terjadi setiap tahun pada saat purnama ketujuh. Setelah Srona dan Srani meninggal, mandat untuk memimpin ritus pengambilan nale pun diserahkan kepada suku Ketupapa turun-temurun hingga saat ini.

Jika waktu pengambilan telah selesai dilaksanakan, kembali ritus penutupnya di Koker Nale tadi. Pada saat ritus penutup semua diwajibkan membuat semacam gumam syukur atas kemurahan Wujud Tertiggi.

Dalam ritus penutup ini pun sesepuh dari Suku Ketupapa menyanyikan mantra “enem lau pito jae, pito jae buto lau tune mu besol, mo akaju para boi ribu ratu moa ia duli pali epak rea. Waike ake da malu mai”.

Arti dari mantra ini adalah sebuah permohonan sekaligus pengharapan agar pada waktunya datang dan memberikan kesejahteraan masyarakat.

Mingar selalu saja memanggil pulang anak-anaknya saat musim menangkap nale tiba. Mereka ingin melahap gizi nale untuk tubuh.

Nala (nyale) memiliki kandungan protein yang jauh lebih tinggi dari telur ayam ras dan susu sapi.

Sebagai perbandingan, Nale memiliki kandungan protein sebanyak 43.84% sedangkan telur ayam ras dan susu sapi masing-masing hanya sebesar 12.2% dan 3.50%.

Kadar fosfor dalam nale (1.17%) juga cukup tinggi bila dibandingkan dengan telur ayam ras (0.02%) dan susu sapi (0.10%).

Nale bahkan memiliki kandungan kalsium (1.06%) yang ternyata masih lebih tinggi dari kandungan kalsium susu sapi yang hanya 0.12%.

Itulah Mingar dan nalenya, ia mengafirmasi semua anak-anaknya untuk hidup selaras alam.