Kemasyuran Gubernur Pertama NTT ‘Lenyap’, Ketika Fakta Dibalik Media

Kupang- “Jangan sekali-kali melupakan sejarah apalagi memutarbalikan fakta”

W.J. Lalamentik atau akrab disapa Hein, masih hangat dalam ingatan perjalanan sejarah berdirinya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

W.J Lalamentik adalah gubernur pertama, peletak dasar kepemimpinan NTT sebelum tujuh (7) gubernur NTT lainnya.

Namun kemasyurannya sebagai founding father NTT, tiba-tiba saja ‘lenyap’ seketika, dalam ingatan sejarah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejumlah generasi baru NTT bakal tak mengenalnya, sebagai pendiri, pemimpin dan bapak NTT pertama.

Segala hal tentang pribadi dan kemasyuran kepemimpinnya sirnah, ketika media Pos Kupang, Tribunnews dan media lainnya memberitakan dengan memutar balikan fakta yang sebenarnya.

“Kami merasa terkejut karena ada berita tentang ayah kami di media online yang menurut kami, dari awal sampai akhir tidak benar sama sekali,” ucap putri ketiga W.J.Lalamentik, Ibu Chenny Lalamentik, di Hotel Kristal Kupang, Selasa (27/11/2018).

Chenny menguraikan, dalam tulisan tersebut, mantan Gubernur NTT, W.J Lalamentik diberitakan bergelar Brigjen, lahir di Wolojita, pernah menjabat Bupati Ende, Pjs Bupati Manado, Anggota DPRD NTT, dan terjerat kasus hukum sengketa Pilkada Aceh. Setelah mendekam di penjara, W.J. Lalamentik meninggal di RS Dharmais karena penyakit jantung koroner.

W.J Lalamentik atau akrab disapa Hein, bukanlah seorang polisi berpangkat Brigjen. Dia lahir di Kakas, Manado, Sulawesi Utara dan tidak pernah menjabat sebagai Pjs Bupati Manado maupun Bupati Ende. Mantan Gubernur NTT W.J Lalamentik juga tidak pernah terlibat sengketa Pilkada Aceh seperti yang diberitakan media online Pos Kupang dan Tribunnews.

“Kami harap pemutarbalikan fakta sejarah ini segera diluruskan. Ayah kami meninggal karena sakit hernia di RS Fatmawati, bukan penyakit jantung koroner. Kami tunggu dan ini waktunya. Sekarang adalah cara Tuhan untuk kami bisa meluruskan hal ini,” ungkap Chenny.

Hal senada diungkapkan oleh putri keempat Hein, Ibu Ellen Suy Lalamentik. Mantan pramugari yang tinggal di Amerika ini mengatakan, pemberitaan tentang ayah mereka, sangat menyakitkan bagi dirinya beserta segenap keluarga besarnya.

“Saya sangat kaget dan marah. Saya emosi dan saya harus bertindak. Orangtua kami adalah orang yang sangat jujur dan tegas. Saya jauh-jauh datang dari Amerika hanya ingin mengklarifikasi berita ini. Ini sangat memalukan,” ungkapnya kesal.

Ellen berharap, nama ayahnya yang adalah mantan Gubernur NTT, W.J Lalamentik, bisa segera dibersihkan dari pemberitaan yang tidak benar.

Sementara itu, Kuasa Hukum keluarga Lalamentik, Agustinus Nahak, SH, MH menegaskan, sebagai kuasa hukum, dirinya telah bertindak untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab kepada media yang bersangkutan.

“Bisa dipastikan berita tersebut adalah fitnah. 75% berita yang dimuat tersebut tidak benar. Tuntutan kami adalah ingin meluruskan sejarah. Kami ingin agar berita-berita yang dimuat berkaitan dengan mantan Gubernur NTT, W.J Lalamentik dengan sumber yang tidak jelas dapat dicabut dari pemberitaan,” tegas Nahak.

Sebelumya, tiga putri Gubernur NTT pertama W.J Lalamentik, yakni Ibu Chenny Lalamentik, Ibu Ellen Suy Lalamentik, dan Ibu Margaret Lalamentik didampingi Kuasa Hukum Agustinus Nahak, SH, MH telah menemui Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Selasa (27/11/2018) pagi.

Kedatangan tiga putri Hein Lalamentik, hanya untuk melakukan silahturahmi  bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat, dan menyerahkan buku biografi mantan Gubernur NTT W.J Lalamentik. Selain itu meluruskan sejarah tentang kiprah gubernur perdana yang diputarbalikan media.

“Pak Gubernur sangat kaget dengan berita tersebut. Saya menyerahkan screenshoot beritanya sebagai bukti kepada beliau. Kami juga serahkan biografi mantan Gubernur NTT, W.J Lalamentik. Dan menurut gubernur, akan disimpan di gedung Sasando sebagai salah satu sejarah perjalanan kepemimpinan di NTT,” ujar Kuasa Hukum Agustinus Nahak.

Istimewanya, ketiga putri Lalamentik diundang khusus untuk menghadiri HUT NTT ke-60 di Kupang.

“Tadi keluarga juga diundang untuk menghadiri HUT NTT yang ke-60,”kata Agustinus Nahak.

Willem Johannes Lalamentik lahir dari keluarga abdi masyarakat. Ayahnya B.W. Lalamentik adalah pimpinan kantor Distrik Kakas-Remboken di ibukota Kakas, lalu menjadi Hukum Tua Sendangan I Kakas tahun 1920-1950. Karena sudah terbiasa dengan keluarga abdi masyarakat, akhirnya Hein tertarik untuk mengabdikan dirinya menjadi abdi masyarakat.

Pada tahun 1934 perjalanan Hein menjadi abdi masyarakat dimulai dengan menjadi voulenteer di Onderdistrik di Kakas. Karir Hein menjadi abdi masyarakat berjalan dengan baik, walaupun harus melewati banyak rintangan dan tantangan. Namun Hein bisa melewati itu semua dengan tenang dan berani.

Hein percaya dengan bimbingan Tuhan, semuanya akan bisa dilewati. Masa pengabdian Hein pada masyarakat berakhir pada tahun 1971 setelah pensiun dari Departemen Dalam Negeri, dan sempat menjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 1958-1966.

Tugas Hein selama menjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) bukanlah tugas yang mudah karena Presiden Soekarno mempercayakan jabatan Gubernur NTT kepada Hein untuk merealisasikan pembentukan Provinsi NTT dengan 12 Kabupatennya. Dan dengan keahliannya dalam pemerintahan, akhirnya Hein berhasil mengkonsolidasikan beberapa kerajaan untuk membentuk Provinsi NTT.

Hein tinggal dirumah sederhana bersama istrinya didaerah Pondok Labu, Jakarta Selatan hingga akhir hayatnya. Hein Wafat tahun tanggal 7 Mei 1985 dengan meninggalkan Istri, 5 orang anak dan 12 orang cucu.

Nama mantan Gubernur NTT W.J Lalamentik yang kini diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di Kota Kupang ini, merupakan sosok yang dikenal sebagai pemimpin yang santun, jujur, tegas, tidak kompromistis, serta bebas dari berbagai persoalan hukum.

Terbukti, semasa kepemimpinannya, keluarga tidak menikmati fasilitas negara. Bahkan pasca pensiun dari jabatan sebagai Gubernur NTT, Lalamentik tidak memiliki rumah ataupun mobil layaknya pensiunan kepala daerah lainnya jaman ini.

“Ayah kami delapan tahun menjadi Gubernur NTT dan pulang ke Jakarta tidak punya rumah pribadi. Kami cuma memiliki rumah di Kompleks Cilandak yang sangat sederhana seperti pegawai biasa lainnya,” tutur anak ketiga W.J Lalamentik, Ibu Chenny.

Meskipun cuma menempati rumah yang sederhana, namun keluarga Lalamentik mengaku bahagia dan diberkati Tuhan dalam setiap hidup mereka.

Perjalanan kepemimpinan W.J Lalamentik saat menjabat sebagai Gubernur NTT pun selalu diiringi cobaan dan tantangan. Seperti dikisahkan Ibu Chenny Lalamentik, cobaan suap pernah dilakukan oleh oknum tertentu terhadap W.J Lalamentik. Namun ayahnya dengan tegas menolaknya.

“Saya saksikan sendiri, orang pernah datang hantar amplop tiga kali. Tetapi beliau selalu menolak. Beliau adalah didikan dari Belanda dan tumbuh sebagai orang yang berkarakter. Dan Tuhan itu adil. Kami anak-anaknya sukses semua, dan tidak mendapat kesulitan dalam hidup,” ungkapnya.

(Al)
082236173028