Festival Guti Nale Mingar Sukses Digelar, Meskipun Ada yang Kecewa

Mingar- Festival Guti Nale Mingar,Desa Pasir Putih,Kecamatan Nagawutung,Kabupaten Lembata,Provinsi NTT yang digelar tanggal 25-26 Pebruari 2019, telah sukses diselenggarakan.

Meski baru pertama kali digelar di Mingar Lembata, Festival Guti Nale, memantik perhatian sejumlah kalangan di jagad ini. Hampir sebagian merasa bangga dan memberi apresiasi ke Pemda Lembata. Tetapi ada yang lainnya menggungkap rasa kecewa.

Kesuksesan event ini, adalah berkat antusias dan partisipasi masyarakat Desa Pasir Putih. Selain itu, adanya dukungan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata selaku penyelenggara, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, dan pihak pemerintah Kecamatan Nagawutung.

Di tengah senyum kebahagiaan atas suksesnya Festival Guti Nale, ada sebagian warga yang merasa kecewa. Pasalnya, ada hal-hal yang kurang menyenangkan hati warga desa maupun peserta festival saat itu.

“Terima kasih buat semua orang Mingar-Riangbaka. Persiapan satu bulan tetapi festival sukses digelar. Terima kasih buat Pemda Lembata sebagai penyelenggara dan juga pemerintah Kecamatan Nagawutung,” ungkap Tokoh Muda Desa Pasir Putih, Melki DS. Bakan, Rabu (27/2/2019).

Pemilik Bengkel Ming’art’ ini mengatakan, Festival Guti Nale yang digelar, merupakan gerakan awal untuk menghidupi pariwisata di Mingar dan Riangbaka. Hal ini harus direspon secara baik dan cepat oleh pemerintah desa dan warga masyarakat. Desa adalah benteng terakhir dari sebuah tradisi ketika kota sudah terkontaminasi dengan hal-hal moderen. Untuk itu, partisipasi setiap suku yang ada di Mingar dan Riangbaka sangat diharapkan dalam event yang akan datang.

“Festival ini sebagai stimulus atau ransangan awal buat kita orang Mingar-Riangbaka untuk memajukan pariwisata. Contohnya program-program pemberdayaan masyarakat, harus dikerahkan di desa untuk memajukan pariwisata. Kita harus siapkan diri. Harus kreatif dan berpikir maju,” kata Lulusan Sastra Sanata Darma Yogyakarta ini.

Namun, dari hasil rekaman dan pantauan Keprinews.co.id, ada beberapa hal sederhana yang menggelitik dan mengecewakan disaat Festival Nale diselenggarakan di Desa Pasir Putih.

Pertama; pelaksanaan Festival Guti Nale tidak tepat waktu. Sementara ribuan warga telah menunggu sedari pagi hingga sore.

Kedua; penyelenggaraan festival tidak dihadiri Bupati Lembata dan pihak kementrian pariwisata seperti yang telah dijanjikan bupati kepada masyarakat Desa Pasir Putih.

Ketiga; Festival Guti Nale tidak dihadiri Anggota dan Pimpinan DPRD Lembata.

Keempat; sejumlah makanan lokal milik warga yang diminta disiapkan di masing-masing stand, sebagian besar dibawa pulang dalam keadaan utuh sampai basi.Meskipun ada beberapa stand yang terjual.Sementara anggaran konsumsi penyelenggaraan festival mencapai jutaan rupiah.

Kelima; tarian masal yang bercerita tentang sejarah dan tradisi ritual Guti Nale yang digelar di Pantai Watan Raja, menggunakan lagu dan musik Maumere Kabupaten Sikka. Lagu yang biasa diputar saat pesta nikah tersebut, tidak ada hubungan dengan tradisi ritual Guti Nale di Mingar.

Keenam; nuansa sakral tradisional Guti Nale yang difestivalkan tidak dirasakan warga. Dan masih banyak hal yang mengecewakan lainnya.

“Festival digelar harus ada dampak ekonomi buat masyarakat, kalau tidak untuk apa. Contohnya saja banyak makanan lokal yang diminta warga siapkan, dibawa pulang utuh sampai basi. Seharusnya bisa dihargai. Ada anggaran konsumsi yang bisa dikasih ke setiap dusun untuk siapkan makanan, sehingga masyarakat bisa dapat uang,” kata Melki.

Melki berharap, penyelenggaraan Festival Guti Nale Mingar pada tahun-tahun akan datang, harus lebih baik dari tahun ini. Dan untuk itu, harus dipersiapkan mulai dari saat ini.

“Tahun depan Festival Guti Nale harus lebih baik dari tahun ini. Siapkan diri dan semua hal dari sekarang, sehingga tidak terkesan dadakan dan panik. Saya minta Pemda harus serius bangun pariwisata. Infrastruktur jalan dan jembatan itu paling penting,” harap Melki.

Selain Melki, ada beberapa warga desa dan peserta festival yang enggan menyebutkan nama, mengungkap rasa kecewa yang sama. Mereka saling bercerita dan berdiskusi terkait festival Nale tersebut.

“Tarian ritual Nale tetapi kenapa harus menggunakan lagu dan musik Maumere? Ini buat suasana semakin buruk, dan semakin tidak terasa. Ini Mingar Lembata bukan Maumere,” kata warga yang enggan membeberkan namanya.

“Panitia atau penyelenggara festival harus lebih tertib dan paham. Ini bukan lelucon atau acara biasa. Ini festival Nale, sehingga tradisi budaya yang diangkat itu perlu dijaga,bukan semau penyelenggara,” kata lainnya.

“Ini pertama kali dan persiapannya hanya sebulan, jadi kalau ada kekurangan kita pahami. Kalau tahun depan digelar lagi, harus lebih baik dari sekarang,”harap warga lainnya.

Sementara Wakil Bupati Lembata Dr.Thomas Ola mengatakan,Pemda Lembata serius untuk membangun dan memajukan pariwisata di Lembata. Salah satunya membuat event-event festival dan lainnya untuk mempromosikan pariwisata Lembata. Selain itu akan sesegera membangun dan memperbaiki infrastruktur seperti jalan menuju wilayah destinasi pariwisata.

“Pemerintah serius membangun pariwisata di Lembata. Infrastruktur akan kita bangun, kita siapkan di wilayah destinasi pariwisata,” kata Thomas.

(Israel)