Nasib Jalan Kelarik, Tak Kunjung di Aspal yang Ada hanya Genangan Air Dirasakan Warga

KEPRINEWS.co.id– Dampak dari pengerjaan jalan lintas kecamatan Bunguran Utara, Kelarik menuju ke ibukota Ranai Kabupaten Natuna Provinsi Kepri yang tak kunjung usai, maka ketika hujan akses jalan terputus.

Masalah akan makin dirasa oleh pengendara, karena hujan dan angin kencang masih terus melanda Kecamatan Bunguran Utara, karena hampir disetiap titk-titik Jalan Lintasan Kelarik – Batubi mengalami kerusakan.

Air yang tergenang diruas jalan mengakibatkan titik jalan tanah lumpuh di Kecamatan Bunguran Utara yang memiliki penduduk 4.130 jiwa.

Masyarakat disana umumnya  merupakan para petani Karet dan Nelayan menghandalkan jalan untuk pergi ke ibu kota Ranai Natuna.

Arifuddin salah seorang sopir angkutan terpaksa menunda perjalan pulang dari Ranai ke Kelarik setelah menerima sebuah pesan video dikirim dari temannya yang sedang terjebak banjir.

Meski berulang kali terjebak banjir, lumpur, bahkan longsor jalan tersebut tetap saja di terobos warga demi sampai ke kelarik yang merupakan satu satunya akses keluar masuk.

“ Kami mengundurkan untuk menembus kelarik, Sebenarnya kita takut juga, lihat kondisi jalannya seperti apa, tetapi mau gimana lagi, cuma ini satu-satunya jalan yang bisa digunakan untuk pergi ke Ranai,” tambah Arifudin.

Kondisi terkini jalan menuju kelarik Natuna

Tempat terpisah Camat Bunguran Utara tidak dapat berbuat banyak terkait konisi dirasakan masyarakat.

“Persoalan ini memang sudah kerap dibicarakan, Jika hujan lebat tiga hari berturut-turut jalan ini penuh air tidak akan ada warga yang bisa melintasinya, jikapun ada iya pakai sampan,” ujar Mardi Hendika Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Bunguran Utara Belum lama ini.

Menurut Mardi, hingga saat ini kondisi cuaca pancaroba musim penghujan diperkirakan hingga memasuki tahun baru 2019.

” Kita pantau hampir semua gorong-gorong jembatan kecil saat ini mengalami kerusakan yang cukup parah bahkan hampir putus, sehingga menyulitkan masyarakat lewat,” terang Mardi.

Sekcam menghimbau agar warga yang melintasi jalan tersebut untuk berhati-hati.

“ Berhati-hati karena ada beberapa titik jembatan gorong-gorong hanya tersisa 1 atau 2 keping papan bloti. Selain itu kondisi jalan banyak yang berlubang cukup dalam becek dan licin karena masih banyak air yang tergenang dipermukaan jalan,” tutur Mardi.

Lebih jauh lagi Mardi menjelaskan, genangan air yang berhasil merusak badan jalan sebagian besar memang berasal dari curah hujan yang tinggi.

“ Kita pantau ada luapan air dari muara anak sungai disekitar hutan sepanjang pinggir jalan yang mengalir dipermukaan jalan terlihat cukup deras selama ini.

Diperkirakan rata-rata titik kerusakan hampir mencapai ± 4 – 6 Kilometer dari gorong-gorong pertama Dusun Ulu Timur (Desa Kelarik Utara) atau sepanjang menjelang sampai memasuki Sungai Semala atau sebelum aspal,” pungkas Mardi.

Tempat terpisah berbagai argument tentang kesiapan jalan ini, terus mencuat tengah masyarakat. Entah kepada siapa lagi masyarakat Kecamatan Bunguran Utara harus meminta pertolongan, agar jalan yang setiap hari mereka lalui dapat diselesaikan.

Padahal suara sumbang memohon agar jalan yang setiap hari mereka lewati bisa diselesaikan, sudah berkicau sejak tahun 2006 silam.

“Mungkin karena di DPRD Natuna tidak ada orang kita, jadi usulan-usulan yang disampaikan hilang begitu saja,”ujar Harunnurasyid, tokoh masyarakat Kelarik kepada media ini kemarin.

Para petani karet hendak menjual hasil dagangan ke kota Ranai penuh perjuangan agar sampai ke tujuan

Sambung Hairunas, mereka yang sudah jadi anggota dewan, tentunya akan memperjuangkan aspirasi masyarakat daerahnya dulu.

“Kalau yang duduk itu, orang dari Pulau Tiga, tentu dia akan utamakan pembangunan di Kecamatan Pulau Tiga, tipis kemungkinan dia memikirkan kami yang ada di Bunguran Utara ini,” cetusnya.

Ada pula yang beranggapan, bahwa pembangunan jalan Batubi – Kelarik, termasuk Telok Buton – Kelarik, sarat kepentingan.

“Entahlah, kalau memeng pemerintah serius memikirkan pembangunan jalan ini, pasti sudah lama selesai. Kalau saya melihat ini macam ada kepentingan, coba kalau sudah musim Pemilu, masing-masing calon sibuk membicarakan tentang kesiapan jalan ini,”ujar Wan Sabarudin, tokoh masyarakat Kelarik Kecamatan Bunguran Utara.

Setelah itu sambung dia, senyap hilang begitu saja, kayak ulat bulu lupa daun, kesiapan pembangunan jalan dijadikan janji politik, “ imbuhnya.

Warga berharap agar ada solusi cepat untuk mengatasi persoalan sangat lama di rasakan masyarakat kelarik.(*)