Keramba Jaring Apung Penyokong Produksi Perikanan, KJA juga Prospek untuk Koperasi Nelayan Natuna

KEPRINEWS.co.id – Direktur Jenderal Perikanan dan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebijanto mengatakan Budidaya perikanan, baik udang maupun ikan berkembang dari tahun ke tahun di Indonesia.

Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya investor yang masuk dan tertarik dengan mendirikan pabrik pakan ikan dan udang.

Menurutnya, Sekurangnya dalam tiga tahun ini ada lima pabrik baru dari luar negeri yang invetasi di Indonesia.

“Namun demikian, mulai tahun ini khususnya produksi ikan air tawar cenderung menurun disebabkan karena mulai digusurnya keramba jaring apung (KJA) di waduk dan danau.” ujar Slamet pada acara press conference di Expo Aquatic Asia dan Indoaqua 2018 di PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat,(30/11/2018).lansir dari info publik.

Sebagaimana diketahui sejumlah daerah tengah mengkaji pengurangan KJA di waduk dan danau, karena KJA dianggap sebagai pencemar utama pencemaran air, padahal hasil riset yang dilakukan oleh Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Para peneliti menyatakan bahwa sumber pencemaran dari budidaya perikanan relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber pencemar lainnya dari hulu dan DAS (Daerah Aliran Sungai)

Anang Hermanta, wakil dari asosiasi pakan ikan dan udang, GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) melaporkan kepada Menteri dalam Forum Aquatica Asia dan Indoaqua 2018,

Anang mengatakan bahwa saat ini para pembudidaya KJA sudah menyadari bahwa mereka mau untuk ditata dan dibina  agar budidaya yang mereka lakukan berkelanjutan.

“Mereka sangat merasakan bahwa air adalah ladang hidup mereka yang harus dijaga kelestariannya,” imbuh Anang.

Lebih jauh lagi disampaikan bahwa dari GPMT juga melakukan upaya-upaya yang sama, seperti mengembangkan pakan apung yang ramah lingkungan dimana pakan ini tidak jatuh ke dasar perairan.

Juga membuat pakan yang rendah Phospor, serta mengajarkan kepada para pembudidaya mengenai feeding management yang baik.

Upaya lain anggota GPMT bersama dengan pembudidaya melakukan bersih-bersih waduk secara berkala.

Menurut catatan KJA merupakan penyokong terbesar produksi ikan budidaya Nasional. KJA juga memberikan sosial ekonomi bagi masyarakat yang sangat besar.

KJA memberikan multiplier effect bagi usaha lainnya. Akan menjadi masalah besar bagi produksi ikan nasional dan stake holder budidaya bila KJA digusur/di-zero-kan.

“Mengingat manfaatnya yang begitu besar, sebaiknya kita bersama-sama menata KJA, membina pembudidaya KJA, mengatur kembali sesuai dengan daya dukungnya, agar KJA ini menjadi usaha budidaya yang berkelanjutan jangan malah di-zero-kan” imbuh Anang.

Menyitir dari pernyataan Menteri Susi bahwa sebagian besar wilayah Indonesaia adalah air, seharusnya usaha perikanan menjadi basis perekonomian utama,yang harus didukung semua pihak.

“Meskipun budidaya perikanan sangat dibutuhkan dan harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, Sustainable Aquaculture is a must “ ujar Susi dalam pertemuan nya dengan sejumlah asosiasi perikanan di Forum Aquatica Asia dan Indoaqua 2018.

Lebih jauh Ibu Susi juga menyarankan agar kegiatan budidaya KJA bisa saling mendukung sektor yang lain, seperti pariwisata, misalkan dengan membentuk kawasan Aqua Wisata, seperti Agro Wisata yang saat ini sedang dikembangkan.

Dari segi bahan baku pakan, GPMT menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kelautan Perikanan karena telah tersedianya tepung ikan lokal sejak kebijakan pemberantasan ilegal fishing.

Untuk masalah ketersediaan bahan baku lainnya Ibu Menteri telah bersedia menyampaikan kepada Kementan agar ketersediaan bahan baku dari sektor pertanian seperti dedak padi, gaplek agar dijamin produksinya di dalam negeri.

Potensi Perikanan Budidaya Natuna

Potensi hasil tangkapan dan potensi pencurian ikan di Natuna diperkirakan mencapai 1.261.980 ton per tahun, dari hasil tangkapan ikan Indonesia sebanyak 5.950.000 ton per tahun.

Hasil penelitian juga memaparkan data hasil budidaya ikan di Natuna dengan beragam jenis ikan bernilai tinggi.

“Ikan budidaya paling mahal itu namanya ikan napoleon, harganya bisa Rp 900 ribu per kilogram, dan itu melimpah ruah,” ujar Ubedilah.kata Direktur Pusat Studi Sosial Politik (Suspol) Indonesia Ubedilah Badrun. dikutip dari Republika.

Dia mengatakan Selain Napoleon, ikan budidaya yang juga bernilai tinggi adalah ikan kerapu dan ikan kakap dengan harga jual mulai dari Rp140 ribu hingga Rp380 ribu per kilogram.

Selain itu, hasil penelitian Suspol juga memaparkan bahwa perairan Natuna menyumbang 21,10 persen hasil tangkapan ikan dari seluruh potensi perikanan tangkap di seluruh Indonesia.

Potensi hasil tangkapan dan potensi pencurian ikan di Natuna diperkirakan mencapai 1.261.980 ton per tahun, dari hasil tangkapan ikan Indonesia sebanyak 5.950.000 ton per tahun.

Hasil penelitian juga memaparkan data hasil budidaya ikan di Natuna dengan beragam jenis ikan bernilai tinggi.

“Ikan budidaya paling mahal itu namanya ikan napoleon, harganya bisa Rp 900 ribu per kilogram, dan itu melimpah ruah,” terang Ubedilah.

Selain Napoleon, ikan budidaya yang juga bernilai tinggi adalah ikan kerapu dan ikan kakap dengan harga jual mulai dari Rp140 ribu hingga Rp380 ribu per kilogram.(inf)

Sumber: NatunaTerkini.com