Sosok Drummer Rommie Huo, Tabuh Drum Non Stop Di Taman Winner Bugis Junction

KepriNews.co.id – Batam, Meskipun ditentang oleh orang tua untuk menyalurkan hobinya bermain musik, Rommie Huo tetap tegar tidak pernah putus asa. Pada tahun 1989, dia mencoba mengikuti berbagai perlombaan musik tingkat sekolah.

Lalu ketika lulus SMA pada tahun 1991, Rommie Huo bertekad untuk lebih menekuni hobinya tersebut. Larangan orang tua, dia jadikan sebagai motivasi. Langkah awal Rommie mulai kembangkan hobi dia itu, adalah dengan cara mendaftarkan diri pada sekolah music Yamaha Music International.

BACA JUGA WAK :
Demi Bantu Korban Pengungsi Gunung Agung dan Rohingya Musisi Ini Tabuh Drum NonStop di Winner Bugis Junction.

Belum puas dengan itu, dia melanjutkan lagi ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Institut Musik Indonesia (IMI) di Jakarta. Ternyata, langkah awal tersebut berbekas dan sangat tidak bisa untuk dilupakan. Sebab, disana dia banyak mendapat ilmu dan pengalaman hingga mampu menyelesaikan 3 level dengan baik selama 3 tahun.

Usahanya untuk bermusik terasa semakin mudah ketika dia mendapat gelar drummer terbaik se-Kampus di Kota Pekanbaru pada tahun 1992. Tidak habis disitu, pada tahun yang sama, dia bergabung dengan grup band 69 Pekanbaru yang berada dibawah naungan Gubernur. Hasilnya, berbagai prestasi disikatnya kala itu.

Kemudian pada tahun 1993, dia terpilih menjadi drummer pengiring di Singapura yang dimotori oleh Event Organizer (EO) dari Tanjungpinang. Sebab, ketika dia berada di Tanjungpinang sempat bergabung dengan Sanggar Tradisional Melayu, dan akhirnya dikontrak selama 4 tahun.

Selama 4 tahun itu, berbagai kegiatan di ikuti Rommie. Mulai dari show, pelayanan Gereja, dan music tradisi. Memasuki tahun 1997, dia berangkat ke Jogjakarta untuk mendalami music tradisi bersama (Alm) Bagong, Sapto Raharjo, dan Sawung Jabo. Saat itu dia mulai merambah seni musik di Jakarta dengan profesi sebagai Aditional Show Player dan Aditional Recording Player.

Di Jakarta, dia mulai banyak mengenal musisi papan atas seperti Ahmad Dhani. Rommie pun mulai mengikuti konser besar bersama Agnes Mo, Krisdayanti dan banyak lagi musisi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Zaman itu, di pernah menjadi drummer Aditional Coklat dan /Riff. Berbagai album recording diselesaikan, baik itu musik modern maupun tradisi.

Rommie juga sempat dikontrak TVRI, ANTV, RCTI dan salah satu TV local Jogja kala itu. Selanjutnya pada tahun 2000, dia mulai mengarah pada Longtripe Indonesia. Bermain musik dari kota ke kota, dari pub ke pub, ke seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, hingga mencapai beberapa Negara seperti Malaysia, Singapura, Brunai, Thailand, Myanmar, Hongkong, China, Jepang, Belanda, Prancis, Turky, Australia dan Italia.

Longtripe tersebut memakan waktu yang cukup lama hingga hampir 15 tahun, dan akhirnya Rommie Huo menetap di Batam, Provinsi Kepulauan Riau karena ditunjuk dan dipercaya mengelola sekolah musik Ahmad Dhani School of Rock milik musisi Ahmad Dhani. Berbagai kegiatan musik diikutinya di Batam, diantaranya ivent yang konsepnya dikemas sendiri. Yaitu bermain drum nonstop selama 4 jam, 16 jam, 3 hari nonstop, dan 5 hari nonstop.

Beranjak dari itu semua, Rommie Huo meraih prestasi yang sangat gemilang. Yakni memecahkan rekor Muri dan rekor dunia pada akhir tahun 2015 sebagai penabuh drum selama 10 hari nonstop yang dihelat di Harbour Bay Batam. Kedepan dia akan beraksi kembali menabuh drum selama 15 hari nonstop memecahkan rekornya sendiri.

Begitulah garis besar cerita perjalanan dan pengalaman musik seorang Rommie Huo. Meski tidak dapat dirinci secara detail, namun beberapa pengalaman diatas merupakan bagian dari perjalanan yang telah dilalui dia sebelum memiliki bakat seperti sekarang ini. Musik tidak akan pernah berhenti untuk di mainkan, dinikmati dan berkarya. Musik selalu ada dalam tubuh manusia karena musik adalah bagian dari Seni. “Berani Berkarya Berani Berbagi”. ( Kepri News / ria)

Iklan Wak
 Advertoria Sanford 18/9/2017