Pemberdayaan Perempuan di Bidang Nelayan dan Perikanan Indonesia

KEPRINEWS.co.id-Profesi nelayan identik dengan seseorang yang bermata pencaharian dengan menangkap ikan di laut, namun seseorang yang membudidayakan ataupun yang mengolah ikan pun dapat dikategorikan sebagai seorang nelayan.

Di Indonesia, profesi ini masih didominasi oleh kaum laki-laki. Namun, Donna Octaviana dari Balai Riset Perikanan dan Perairan Umum Palembang justru memilih untuk memberdayakan kaum wanita di daerahnya, khususnya untuk industri pengolahan ikan.

Pelatihan JICA Knowledge Co-Creation Program Penggunaan Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan Melalui Diversifikasi Mata Pencaharian untuk Negara Kepulauan, di Okinawa, Jepang.Koleksi foto JICA indonesia

Seperti di tulis JICA Indonesia di Halaman Facebook yang mengisahkan sosok inspirasi wanita indonesia beserta foto foto perjalanan magang di Jepang.

Inspirasi ini muncul setelah mengikuti pelatihan JICA Knowledge Co-Creation Program Penggunaan Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan Melalui Diversifikasi Mata Pencaharian untuk Negara Kepulauan, di Okinawa, Jepang dan Republik Palau, 20 Juni – 14 Agustus  lalu.

Melalui program pelatihan ini, Donna dan 6 orang rekan-rekannya dari beberapa negara lain diperkenalkan dengan beragam jenis mata pencaharian yang berkaitan dengan kegiatan perikanan dan diajak mengunjungi beberapa lokasi kegiatan perikanan.

Dalam kurun waktu 2 tahun, Donna telah menyusun rencana untuk melakukan beragam program penyuluhan bagi para kaum wanita, khususnya di daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir, meliputi pembekalan ilmu kewirausahaan, pengembangan produk, serta pemasaran untuk produk-produk olahan dari ikan.

Donna memilih Kabupaten ini karena menurutnya daerah ini memiliki sumber daya ikan tawar yang besar yang sayangnya masih belum dikelola dengan baik.

Kapal Perempuan

Selain kisah Donna di atas yang menjadi Ispirasi para wanita Indonesia, ada satu lagi perempuan pulau mengispirasi.

Dia adalah Nurlina seperti tertulis oleh Institut Lingkaran Pendidikan Alternatif untuk Perempuan (Kapal Perempuan)  mengutip dari situs kapalpermpuan.org salin ulang Kepri News.co.id, Senin (19/11/2018).

Lina melaut bersama pamannya sejak kecil karena ayahnya telah meninggal. Dia harus mencari nafkah untuk keluarganya.

Kakak laki-lakinya sudah menikah dan hanya bisa menghidupi keluarganya sendiri.

Melaut bersama pamannya tidak setiap saat dia lakukan karena kadang-kadang dia merasa tidak nyaman. Perahu pamannya juga harus menghidupi anaknya sendiri.

Jika tidak melaut, Lina bekerja memperbaiki jala/jaring yang rusak dan mengikat rumput laut dengan penghasilan sangat kecil, Rp. 6.000-15.000 per hari.

Hanya itu pekerjaan yang tersedia untuk perempuan di pulau.

Lina sangat ingin mempunyai perahu sendiri karena dengan melaut penghasilannya jauh lebih besar.

Bantuan pemerintah (Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan/Pangkep) yang berupa perahu motor kecil (katinting) hanya diberikan pada laki-laki. Anggapannya nelayan adalah laki-laki.

Kemampuan Lina dan perempuan lain di pulau untuk melaut dan mencari ikan dianggap tidak ada.

Sekolah Perempuan telah membuka kesadaran bahwa siapapun berhak menjadi apapun yang diinginkannya dan sesuai kemampuannya.

Lina dan teman-temannya mendesak Pemkab Pangkep juga memberikan bantuan perahu/katinting kepada perempuan karena profesi nelayan bukan hanya untuk laki-laki.

Prosesnya panjang untuk meyakinkan pemerintah karena tidak mudah mengubah cara pandang bahwa nelayan juga perempuan. Namun akhirnya berhasil.

Lina, tidak hanya menggunakan perahu bantuan itu untuk melaut (mencari nafkah).

Ia menyadari bahwa transportasi di laut sulit dan mahal maka Lina mendedikasikan perahunya juga untuk membantu perempuan yang akan berobat ke Pustu (Puskesmas Pembantu) terdekat dan anak-anak sekolah terutama anak-anak perempuan yang harus menyeberang ke pulau lain.

Perjuangan Lina yang mewakili perjuangan nelayan perempuan ini didokumentasi oleh Saidah, temannya yang juga anggota Sekolah Perempuan.

Ini merupakan proses, perempuan merekam, mendokumentasi, menuliskan dan membuat sejarahnya sendirinya karena sejarah perempuan seringkali diabaikan.

Apalagi sejarah perempuan miskin dan tinggal di wilayah terpencil.

Bravo untuk tim YKPM Sulsel yang semakin memperkuat perempuan pulau terus berjuang untuk mendapatkan hak-haknya.

Semoga dengan dua sosok wanita ispirasi ini dapat bangkitkan para nelayan Perbatasan Mutiara Ujung Utara khususnya negeriku NATUNA (*)

Baca juga link berita

https://www.kompasiana.com/rikyrinovsky/5b7fb30c6ddcae252f0dd124/jica-jepang-hibahkan-bangunan-pasar-ikan-natuna-segera?page=all

Iklan Wak
 Advertoria Sanford 18/9/2017