Peran Negara Muslim dalam Kemerdekaan Republik Indonesia

Yudhistita Andi Nugraha, S.Pd.I

(Oleh : Yudhistita Andi Nugraha, S.Pd.I)
Anggota ICMI Organisasi Daerah Kota Tanjungpinang

Tanpa terasa sudah 77 tahun Republik Indonesia ini merdeka. Banyak kisah yang dialami oleh para pendiri bangsa ini ketika berjuang dalam mempertahankan Indonesia ini agar tetap Merdeka tanpa ada yang menjajah. Namun, harus kita akui bahwa Kemerdekaan Republik Indonesia ini tidaklah ada apa-apanya apabila tidak ada unsur-unsur 1. Memiliki wilayah, 2. Memiliki rakyat (artinya semua rakyat mendukung), 3. Berdaulat dan memiliki lembaga-lembaga negara (yudikatif, legislatif, eksekutif, dan lain-lain), 4. Mendapatkan pengakuan dari negara lain baik secara de facto (nyata) maupun de jure (hukum).

Pengakuan secara De Facto Pengakuan yang diberikan oleh suatu negara kepada negara lain yang telah memenuhi unsur-unsur negara, seperti ada pemimpin, rakyat dan wilayahnya. Sementara pengakuan secara De Yure adalah pengakuan terhadap suatu negara secara resmi berdasarkan hukum dengan segala konsekuensi atau pengakuan secara internasional.

Ada berbagai analisis dari bukti-bukti sejarah yang berbeda menyebutkan tentang siapa negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Perbedaan-perbedaan ini terkuak belakangan ini. Perbedaan ini kemungkinan ditinjau dari keadaan dan pergolakan dunia pada saat itu yang baru saja dilanda Perang Dunia II dan masih bercokolnya kolonialisme dan imperialisme di beberapa negara, khususnya di benua Asia dan Afrika. Jadi apa yang akan penulis bahas ini tidak perlu dipermasalahkan apabila penulis menempatkan suatu negara pada posisi pertama sedangkan pendapat Anda lain. Tidak perlu menjadi permasalahan juga, mengingat negara-negara yang akan penulis sebutkan ini adalah negara-negara yang disebut-sebut sebagai negara pertama yang memberikan pengakuan kepada kemerdekaan Indonesia.

Nah inti dari semua itu ketika Indonesia telah mempropklamasikan diri menjadi Indonesia yang merdeka yang telah digaungkan oleh Soekarno-Hatta ini adalah adanya pengakuan dari Negara lain, maka dimulailah lobi-lobi yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Namun yang menjadi pertanyaan bagi kita bersama adalah Negara manakah yang memberikan pengakuan terhadap Republik Indonesia? Berita tentang ini telah hilang ditelan Bumi. Kita tidak pernah mengetahui Negara manakah yang pertama memberikan Pengakuan itu.

BACA JUGA WAK:  Cabjari Natuna Dapat Penghargaan dari Jaksa Agung Muda Kepatuhan Bidang Pidana Khusus

Permasalahan ini pula yang menjadi buah pertanyaan banyak orang di bangku Sekolah, Negara manakah yang memberikan pengakuan pertama terhadap Kemerdekaan Indonesia. Nah, Salah satu sumber bisa ditemui di laman situs www.pusakaindonesia.org.

Semua itu bermula dari Gaung kemerdekaan Indonesia membahana ke seluruh penjuru dunia, setelah Proklamator kemerdekaan RI Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI secara de facto pada 17 Agustus 1945. Namun perlu diingat, bahwa untuk berdiri sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain secara hukum atau de jure. Karena pada masa revolusi itu, wilayah Indonesia terjadi kekosongan pemerintahan setelah Jepang menyerah pada Sekutu, dan pasukan Sekutu akan mendarat dengan membawa pasukan Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.

Pada persyaratan ini, kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia dapat berdaulat. Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI sertaPahlawan Nasional RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI ), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan), dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

BACA JUGA WAK:  Imigrasi Sebagai Benteng Kedaulatan Negara yang Mempunyai Empat Fungsi

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran-serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia , di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:”.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Dukungan Pererintah Mesir
Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya, Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), organisasi Islam yang dipimpin Syaikh Hasan Al-Banna, tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya. Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.

Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap mereka lakukan. Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.

Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946. Dengan begitu Mesir tercatat sebagai negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah itu menyusul Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghanistan. Selain negara-negara tersebut, Liga Arab juga berperan penting dalam Pengakuan RI.

BACA JUGA WAK:  Cabjari Natuna Dapat Penghargaan dari Jaksa Agung Muda Kepatuhan Bidang Pidana Khusus

Secara resmi keputusan sidang Dewan Liga Arab tanggal 18 November 1946 menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab supaya mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Alasan Liga Arab memberikan dukungan kepada Indonesia merdeka didasarkan pada ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Kalau kita melihat dari cerita di atas tentang negara pertama yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia maka jelaslah oleh kita bahwa peranan negara-negara Muslim dalam Pengakuan Bangsa Indonesia secara hukum, maka sudah sewajarnya kita memberikan rasa hormat yang dalam kepada Negara-negara terbsbut.

Setelah negara-negara muslim yang tergabung dalam Liga Arab mengakui kedaulatan Indonesia, dalam Sejarah kita diketahui barulah pada tahun 17 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sebagai sebuah Negara Republik saat soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditanda tangani di Istana Dam, Amsterdam. Dan pengakuan ini baru dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2005.

Berikutnya baru Negara Vatikan merupakan Negara Eropa pertama yang mengakui Kemerdekaan Indonesia.
Semoga ada manfaatnya bagi kita semua tulisan ini. Dirgahayu Indonesiaku Jayalah Negeriku Jayalah Bangsaku…

Wallahu ’alam bishowaab. ***