Oknum Guru, Lakukan Pencabulan Didasari Pernah Jadi Korban Pencabulan

Kapolres Karimun AKBP Tony Pantano didampingi Kasat Reskrim AKP Arsyad Riyandi ketika memperlihatkan barang bukti (BB) kasus pencabulan oleh oknum guru SDN di pulau Kundur.(Foto:Edy)

KEPRINEWS.CO.ID, CO.ID, KARIMUN – Sat Reskrim Polres Karimun, menggelar konferensi pers tentang kasus pencabulan yang dilakukan oleh tersangka onkum Guru K (47) yang berstatus Pengawai Negeri Sipil (PNS). Kapolres Karimun AKBP Tony Pantano didampingi Kasat Reskrim AKP Arsyad Riyandi menjelaskan, modus tersangka K diawali dengan para korban diiming-imingi akan diberikan nilai tinggi.

”Prakteknya diruangan Unit Kesehata Sekolah (UKS) di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kundur. Pelaku menyuruh para korban melakukan terapi yaitu memegang dan menggocokkan batang kemaluan pelaku hingga mengeluarkan cairan (sperma),” jelasnya, Rabu (3/8/2022).

BACA JUGA WAK:  Makamah Agung RI Resmikan Operasional 51 Kantor Pengadilan dari Tanjungpinang

Aksi pencabulan tersebut dimulai sejak tahun 2018 sampai sekarang, pencabulan tersebut dilakukan disatu tempat yaitu diruang UKS. Setelah melakukan aksinya, para korban diberikan makan mie ayam dan memberi uang sebesar Rp30 ribu serta memberikan baju kameja.

Kasus tersebut terungkap setelah salah seorang korban menceritakan kepada gurunya dan gurunya memberitahukan kepada orangtua korban yang langsung melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian.

”Berdasarkan laporan 13 Juli 2022 lalu, maka kita lakukan penangkapan terhadap tersangka K, pada18 Juli di Kundur. Dengan korban lima pelajar dibawah umur, mulai dari satu kali, dua kali, tiga kali hingga empat kali pencabulan oleh oknum guru. Rata-rata anak muridnya sendiri yang menjadi korban,” ujarnya.

BACA JUGA WAK:  Peringati Hari Disabilitas Internasional 2022, Ketua TP PKK Kepri Sebut Keluarga Tak Boleh Malu Punya Keturunan Disabilitas

Dengan demikian, kata Tony lagi, tersangka akan dijerat pasal 82 ayat (1), ayat (2) dan (4) undang undang nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan ke 2 atas undang undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak di pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

BACA JUGA WAK:  Markas Koarmada I di Tanjungpinang Diresmikan

”Menurut pengakuan tersangka ada 11 korban. Cuman, hanya lima orang yang kita mintai keterangan,” ungkapnya.

Sementara tersangka K menuturkan, aksi pencabulan terhadap anak didiknya didasari karena dirinya pernah menjadi korban pencabulan saat waktu kecil dulu. Dan, korban rata-rata anak-anak berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, untuk berjenis perempuan dirinya tidak tertarik.

”Terkadang saya ingin melakukannya, terkadang tidak. Waktu kecil saya pernah menjadi korban sekitar umur 12 atau 13 tahun. Sayapun, tidak tau kenapa ini bisa terjadi dan saya juga menanyakan kepada diri saya sendiri,” tuturnya.(edy)