Balada Sang Pejabat

Ridarman Bay

Oleh Ridarman Bay

Dosen dan Pengurus PWI Kota Tanjungpinang

Kehidupan itu cuma dua hari. Satu hari untukmu dan satu hari melawanmu.

Maka pada saat ia untukmu jangan bangga dan gegabah.

Dan pada saat ia melawanmu, bersabarlah. 

Karena keduanya adalah ujian bagimu.

(Ali bin Abi Thalib).

Pagi itu udara terasa sejuk, di luar angin bertiup agak kencang. Hawa kian berasa dingin lantaran temperatur AC yang distel 20 derajat Celsius. Dinginnya cuaca kian tersaji seperti dinginnya hati. Pagi ini dia harus masuk kantor dengan posisi dan suasana yang berbeda dengan sebelumnya. Kalau kemarin dia masih menjadi seorang pejabat yang dihormati, kepala dinas (Kadis) eselon 2A. Sekarang dia harus masuk kantor cuma sebagai kepala bidang (Kabid) saja, eselon 3A.

Tangannya terhenti ketika dia mengambil baju. Hatinya tertegun. Pakaian yang biasa dipakai sebagai Kadis, kayaknya sekarang sudah tidak pantas lagi dikenakan. Tidak mungkin rasanya pakaian seorang Kadis dia pakai saat ini, padahal jabatannya kan hanya Kabid. Apa nanti kata pimpinannya jika dia berpakaian lebih bagus daripada atasannya, Kadis tempat dia bekerja. Akhirnya tangannya meraih baju biasa saja tanpa pernak pernik pakaian seorang Kadis yang biasa dia pakai.

BACA JUGA WAK:  Plt Walikota Tinjau Pasar Kawat Tanjungbalai

Itulah suasana batin yang dialami oleh salah seorang penggede yang dimutasi Gubernur Kepri Ansar Ahmad akhir tahun 2021. Dia yang awalnya seorang pejabat level Kadis eselon 2A diturunkan posisinya menjadi Kabid, eselon 3A. Bagi sebagian personal, turun karir merupakan hal yang biasa. Tapi bagi dia turun jabatan merupakan pukulan yang berat. Ibarat tinju, dia telah di knock out (KO) kan.

Selama ini dia menikmati posisi sebagai pejabat teras di pemerintah provinsi (Pemprov). Dia punya fasilitas yang wah.  Dapat mobil dinas yang cukup mentereng, Innova Reborn. Memiliki ruangan kerja yang luas, wangi dan apik. Mempunyai dua sekretaris yang cantik-cantik dan muda. Punya ajudan dan supir yang siap mengantar dia ke mana saja selama 24 jam. Tidak itu saja, saat akan naik mobil dinasnya, sang ajudan siap sedia membukakan pintu mobil dengan sikap tubuh yang sempurna, bak seorang kepala daerah naik mobil.

BACA JUGA WAK:  Plt Walikota Tinjau Pasar Kawat Tanjungbalai

Dengan posisi sebagai Kabid, tentu saja fasilitas itu bakal sirna. Selaku Kabid, dia tidak ada apa-apanya. Mobil dinas avanza saja, itupun kalau dikasih. Parkir cari sendiri tempat yang luang, jauh lagi. Kalau jadi Kadis, dia cukup turun di lobby kantor dan supir yang cari tempat parkir. Saat ke ruang kerja, dia bawa tas sendiri. Ketika jadi Kadis, sudah ada ajudan yang membawakan tas atau peralatan kerjanya. Dia tinggal jalan santai doang. Sambil senyum kanan kiri. 

Sambil mengancingkan baju, tidak terasa air mata menitik di pipi. Terbayang istri dan anak yang selama ini bangga sekali sang ayah menjadi pejabat teras di Pemprov. Dalam setiap pertemuan PKK atau acara keluarga, sang istri selalu menceritakan kehebatan si suami. Hal serupa juga terjadi pada anak dan menantu. Dengan posisi sekarang, hanya Kabid, tentu saja sang istri tidak bisa lagi sumringah menceritakan posisi si suami kepada handai tolannya. Masak suami Kabid saja di bangga-banggain kepada orang lain.

BACA JUGA WAK:  Plt Walikota Tinjau Pasar Kawat Tanjungbalai

Tapi itulah hidup, the show must go on. Pagi ini dia harus tetap ke kantor. Tentu saja dengan perilaku dan suasana yang sudah jauh berbeda dengan tahun lalu. Sekarang yang dia pikirkan bagaimana mengundurkan diri dari jobnya. Sebab, dengan turun jabatan ke eselon 3A, maka masa pensiunnya menjadi dekat jatuh tempo. Dia dipaksa segera pensiun. Rasanya perih juga terasa di dada. Pensiun selaku Kadis rasanya lebih terhormat, ketimbang pensiun sebagai Kabid. Tapi apa mau dikata. Demosi sudah jatuh. Wallahu Alam.