Sudah 14 Orang Tewas Gantung Diri, Ratusan Imigran Demo ke Kantor Walikota Tanjungpinang

Para Imigran demo di kantor walikota.

TANJUNGPINANG – Ratusan imigran yang selama ini dilokalisir di Badra Resort Bintan mendatangi kantor walikota Tanjungpinang, Kamis (25/11/2021) para Imigran ini datang ke Kantor Walikota yang ada di Senggarang dengan menggunakan 20 mobil carry angkutan Kota.

Setibanya di depan kantor walikota yang ada di Bukit Senggarang, para imigran dihadang para Satpol PP dan puluhan polisi berseragam agar pedemo tidak masuk ke halaman kantor walikota. 

Tampak Kapolsek Tanjungpinang Barat dan Kasat Sabhara Polres Tanjungpinang ikut berjaga jaga gerbang masuk kantor walikota. Para imigran berkeinginan berjumpa dengan walikota. Hanya saja walikota sedang tidak berada di tempat lantaran menghadiri acara peringatan Hari Guru dan PGRI di Pamedan. Meski pihak kepolisian menyebutkan walikota sedang tidak berada di kantor, namun para Imigran yang tiba sejak pukul 10.00 wib bertahan di pintu gerbang dengan membentangkan spanduk dan poster minta agar mereka segera dikirimkan ke negara yang bisa menerima mereka sebagai warga negara baru.

Menurut Yahya Jamili (29), mereka demo karena sampai saat ini tidak ada kepastian dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) selaku badan PBB yang menangani para pengungsi.

“Kami Ingin Buk Rahma sebagai Walikota Tanjungpinang bisa membantu kami menjadi penghubung ke pemerintah pusat dan UHNCR agar masalah kami segera teratasi,” ujar Yahya Jamili yang sudah fasih berbahasa Indonesia.

Menurutnya, mereka yang demo ada 300 orang dan semuanya dari Afganistan.

“Yang ditampung di Badra Resort saat ini ada sekitar 600 pencari suaka dan berasal dari beberapa negara. Kami yang demo ini semua dari Afganistan, ada sebagian saudara-daudara kami yang tidak ikut demo karena masih memiliki anak-anak yang kecil,” terang Yahya Jamili di sela-sela Demo.

Saat ditanya, negara mana tujuan mereka, Yahya Jamili menyebutkan, mereka sepenuhnya menyerahkan ke UHNCR dan mereka siap menjadi warga negara baru bagi negara yang menerima mereka.

“Kami bosan di penampungan. Sebagian dari kami ada yang sudah 11 tahun di pengungsian. Kerja kami selama ini hanya mahan dan tidur serta tidak ada kegiatan lain,” sebutnya.

Kata Yahya Jamili, pihaknya kecewa dengan UHNCR karena seperti tidak bertanggungjawab dengan nasib para pengungsi.

“Kami ini demo serentak di berbagai daerah di Indonesia. Banyak diantara kami yang depresi. Selama 10 tahun terakhir tercatat ada 14 orang pengungsi yang meninggal gantung diri lantaran depresi karena tidak jelas masa depan mereka. Jumlah yang mencoba gantung diri ada puluhan bahkan ratusan, namun sebagian besar berhasil digagalkan,” ucapnya.

Kini, sebut Yahya Jamili, banyak pengungsi yang ketergantungan dengan obat karena mengalami defresi.

“Sudah banyak yang rutin minum obat yang diberikan psikiater garena gangguan kecemasan. Banyak juga yang sudah tidak bisa komunikasi dengan keluarga mereka lagi hingga membuat sebagian besar kami pikirannya terus terganggu,” jelasnya.

Kata Yahya Jamili, demo mereka itu sudah yang kesekian puluh kali mereka lakukan agar mendapat perhatian dari UHNCR.

“Dua hari lalu kami jalan dari Badra Resort hingga ke Pamedan,” sebutnya. (*/arl)