Terorisme Pakai Ideologi Kekerasan dan Mesti Jadi Musuh Bersama

Kepala BNPT Komjen Polisi DR Boy Rafli Amar disela-sela bertemu dengan tokoh agama dan para keluarga penyintas terorisme di Hotel Mercure Samarinda Kaltim.

Kepala BNPT Komjen Polisi DR Boy Rafli Amar disela-sela bertemu dengan tokoh agama dan para keluarga penyintas terorisme di Hotel Mercure Samarinda Kaltim.

SAMARINDA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi DR Boy Rafli Amar, MH mengatakan kelompok terorisme di Indonesia saat ini masih mengusung ideologi yang berbasis kekerasan. Ciri ideologi terorisme ini memiliki karakter ideologi teroris yaitu intoleransi, tidak bisa menerima perbedaan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Hal tersebut dikatakan Boy Rafli Amar saat bertemu dengan tokoh agama, dan para keluarga penyintas terorisme di Kaltim, yang berlangsung di Hotel Mercure Samarinda, Sabtu petang (18/9/2021).

“Karakter itulah yang diusung oleh terorisme. Jeleknya kelompok terorisme ini mengusung slogan-slogan agama. Itu yang kita sayangkan. Karena semua agama tentu memiliki cinta kasih dan semangat untuk mengasihi satu sama lainnya, serta menghormati perbedaan,” ujarnya.

Boy Rafli Amar, yang turut didampingi oleh Sekretaris Utama BNPT Mayjen. TNI. Untung Budiharto (Sestama) dan Deputi Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi, Mayjen. TNI. Hendri Paruhuman Lubis, mengatakan kelompok terorisme karakternya merasa paling superior dan ketika ada perbedaan prinsip, maka dianggap sebagai lawan.

Bahkan, tegas Boy, banyak tokoh di pemerintahan yang menjadi musuh mereka, karena alat negara dipandang sebagai lawan yang dapat menghalangi tujuan mereka mendirikan negara Islam di Indoensia.
Pengaruh arus globalisasi saat ini, kelompok terorisme selalu mengedepankan perbedaan-perbedaan tersebut. Padahal, tegasnya, Indonesia kaya akan perbedaan. Jika perbedaan tidak disikapi dengan bijak, maka perbedaan Indonesia dapat menjadi bencana.

“Seperti yang terjadi Kaltim pada 2016 silam ketika Gereja Oikumene di Samarinda diledakkan. Itu adalah wujud dari orang-orang intoleran, orang-orang yang sudah tersusupi alam pikirannya untuk mengadu domba diantara warga Indonesia dengan keyakinan yang menurut mereka adalah sebuah kebenaran. Padahal itu adalah sebuah kekeliruan,” tegas Boy.

Ia mengakui kasus terorisme dan intoleransi terus saja terjadi di Indonesia. Seperti juga di Kaltim, beberapa provinsi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Bali dan Sulawesi Selatan, juga pernah menjadi sasaran bom bunuh diri pelaku terorisme.

Diterangkan Boy, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, ada 120 negara di dunia yang terkena dampak propaganda teroris. Tingginya angka ini karena arus globalisasi dimana orang, khususnya anak muda dalam menggunakan sosial media.

Menurut catatan pemerintah, ucap Boy, saat ini ada sekitar 202 juta pengguna internet di Indonesia. Dari 202 juta pengguna internet ini, 80 persen sebagai pengguna media sosial, dimana 60 persennya adalah anak muda. Generasi Z, generasi milenial.

“Nah kelompok terorisme ini senang sekali merekrut anak-anak muda yang mereka anggap berani, idealis dan sedang mencari jati diri. Generasi milenial ini dengan mudah mengikuti, mem follow akun-akunnya, terus update sampai pintar membuat surat wasiat (siap mati) untuk orang tuanya saat akan menjalankan aksinya. Itulah akhirnya dia menjadi pelaku bom bunuh diri,” cerita Boy.

Kegiatan Pelibatan Masyarakat “Kolaborasi Penyintas” dalam pencegahan terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltim, selain menghadirkan keluarga dan korban Gereja Oikumene, juga menghadirkan satu keluarga kasus bom Desa Loki, Ambon pada tahun 2005 silam, dimana saat itu terdapat 6 orang anggota Brimob Polda Kaltim gugur dalam tugas.

Pertemuan ini menjadi mengharukan, karena keluarga penyintas bom gereja Oikumene membawa hadir anak-anak mereka yang selamat dari luka-luka berat yang diderita. Ketiga anak yang hadir tersebut yaitu Alvaro Sinaga (9 th), Trinity Hutahaean (8 th) dan Anita Kristobel (7 th).
Dalam pertemuan ini terungkap, jika hingga hari ini, anak-anak penyintas terorisme di Kaltim tidak pernah menerima bea siswa, seperti yang pernah dijanjikan. Keluarga korban hanya menerima banyak bantuan dalam proses pengobatan rumah sakit pasca kejadian ledakan.

Boy turut memberikan semangat kepada para keluarga penyintas terorisme ini, baik yang kehilangan anggota keluarga maupun anggota keluarga yang saat ini menjadi penyintas atas peristiwa tersebut.
“Kami akan memperjuangkan karena ada beberapa Kementerian dan lembaga yang menyediakan bea siswa. Ini adalah bea siswa khusus yang merupakan korban dari kejahatan terorisme. Kami akan semaksimal mungkin memenuhi keinginan para orang tua penyintas,” janji Boy.

Diakhir acara, keluarga penyintas bom Gereja Oikumene maupun keluarga penyerangan teroris di Desa Loki, Ambon mendapatkan sejumlah bantuan tali asih dan kebutuhan sembako untuk keperluan sehari-hari dari BNPT RI.

Dalam kunjungan Kepala BNPT dan rombongan ke Kaltim, selain ke Samarinda, dan pada Senin (20/9/21) akan bertolak ke Balikpapan untuk melaksanakan Delkarasi Kesiapsiagaan Nasional, dalam rangka Penanggulangan Terorisme.

Selanjutnya rombongan juga akan ke Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara untuk bertemu dan berdialog dengan mitra deradikalisasi kasus Bom Bali 1, Puryanto dan para binaan BNPT lainnya.(*/arl)