Hasil Tangkap Nelayan Sempat Tak Dapat Pasar

Dinamika Nelayan dan Petani Pesisir

TANJUNGPINANG – Pademi Covid-19 yang melanda negeri dampak ekonominya tidak hanya dirasakan oleh warga yang tinggal di kota saja. Warga di pulau-pulau yang bermata pencarian sebagai neyalan dan petani juga sangat merasakan imbasnya. Seperti yang disebutkan Khazalik, Anggota DPRD Provinsi Kepri daerah pemilihan Bintan Lingga.

Menurut Khazalik yang baru pulang dari reses dengan keliling pulau-pulau di wilayah Kabupaten Lingga dan Kabupaten Bintan, para nelayan sempat kelimpungan mencari pembeli hasil tangkapan mereka, karena banyak penampung ikan menolak menerima ikan, karena larangan berlayar kapal antar daerah saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Harga ikan dan hasil pertanan sempat anjlok, karena tidak ada pasar yang menerima mereka saat PPKM. Para penampung yang selama ini menjadi tumpuan para nelayan dan petani di pulau sempat tidak mau menerima komoditi yang dihasilkan masyarakat. Penampung beralasan, mereka tidak bisa menjual dagangan ke luar daerah. Untung hal itu terjadi tidak lama. Namun, dampaknya harga ikan dan harga komoditi hasil pertanian jadi anjlok di pulau-pulau kecil,” cerita Khazalik saat ngopi bareng sejumlah wartawan di Calisto Batu 9, Tanjungpinang, Senin (9/6/2021).

BACA JUGA WAK:  261 Orang TKI Positif Covid-19, Jalur Masuk dari Malaysia dan Singapura Diperketat

Saat sudah ada kelonggaran penerapan PPKM, tentu jumlah komiditi sudah menumpuk hingga harga belum sertamerta stabil.

“Untuk saat ini memang perekonomian warga pesisir mulai menggeliat. Karena mayoritas restauran di kota-kota sudah buka, hingga sudah ada pasar yang menampung hasil tangkapan nelayan,” katanya.

Kata Khazalik, masa pandemi juga banyak masyarakat yang bertumpu pada nelayan di pesisir. Pasalnya, sejumlah pekerja di sektor swasta seperti di kawasan industri, banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya. Akibatnya, para karyawan ini memilih pulang kampung dan sebagian merupakan warga pulau hingga saat mereka pulang kampung, tanggungjawab warga pesisir yang umumnya bermata pencarian sebagai nelayan juga bertambah.

BACA JUGA WAK:  Posyantek Teluk Bakau Bintan Terbaik Ke- III Nasional

Diakui Khazalik, nelayan dan petani merupakan sektor perekonomian yang relatif lebih tangguh. Karena nelayan dan petani yang umumnya tinggal di pesisir umumnya bekerja sendiri sendiri hingga mereka merupakan pemilik usaha mandiri yang tentu tak mengenal PHK.

Hanya saja, sebut Khazalik, umumnya warga yang ada di pesisir kesulitan dalam memasarkan hasil produksi mereka karena minimnya infrastukur yang mendukung kegiatan warag di pulau-pulau.

BACA JUGA WAK:  Posyantek Teluk Bakau Bintan Terbaik Ke- III Nasional

“Biaya transportasi bagi warga pesisir itu sangat tinggi. Bahkan, sarana pendidikan dan infrastuktur lainnya yang disediakan pemerintah juga tidak merata. Mayoritas anak nelayan setiap hari harus menyebrang ke pulau lain untuk sekolah, karena tidak mungkin pemerintah membagun sekolah di setiap pulau lantaran banyak pulau-pulau kecil yang peduduknya masih sedikit,” terangnya.

Meski Demikian, sebutnya, pemerintah mesti terus memberi kemudahan dan membantu warga pesisir agar mereka terus prduktif, seperti menyediakan transportasi murah dan program lainnya untuk membantu masyarakat pulau dan sebagai bentuk hadirnya pemerintah di tengah warga pesisir.(*/arl)