Kades Penghujan Dituding Jual Air dari Lahan Orang Lain

Badrun (baju putih) pemilik lahan saat diwawancarai wartawan usai sidang.

KEPRINEWS.CO.ID, TANJUNGPINANG – Kepala Desa Pegudang Bintan Zulfitri dituding menjual air bersih dari lahan orang lain. Kasusnya kini sudah sampai ke persidangan Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Dalam persidangan terungkap lahan seluas dua hektar di desa Penghujan Kabupaten Bintan milik Badrun itu telah dikelola oleh Kepala Desa setempat Zulfitri.

Menurut yang mengaku sebagai pemilik lahan, Kepala Desa tersebut sengaja mengambil keuntungan dari air kolam yang ada di lahan miliknya sejak tahun 2015 hingga kini.

Menurut badrun, penjualan air bersih itu dengan menggunakan alat bantuan dari pemerintah. bahkan air kolam yang diperjualbelikan ke masyarakat harga sangat fantastik dari sekitar Rp900 ribu hingga Rp700 ribu ke setiap Kepala keluarga per bulannya. Di daerah itu, ada 600 KK dan sekitar 70 persen warga mempergunakan air itu untuk kebutuhan sehari-harinya.

BACA JUGA WAK:  Lagi, KSP Kepri luncurkan inovasi baru, scan barcode

“Bayangkan berapa keuntungan yang didapat sebagai kepala desa perbulannya dari 2015 hingga kini. Sementara tower air yang dibangun dan alat penyedot air itu dibantu dari pemerintah, dalam hal ini pemerintah bukan membantu warga tapi membantu oknum kepala desa,” ungkap Bahtiar Batubara SH selaku kuasa hukum Badrun, Rabu (17/2/21).

Badrun mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri kelas IA Tanjungpjnang
Didampingi Kuasa Hukum Bahtiar Batubara SH. Meminta dikembalikan lahan miliknya yang dulu digunakan oleh PT tambang bauksit setelah diambil hasil tambangnya, lahan itu yang di kerok menjadi kolam air.

BACA JUGA WAK:  Keliling Bawa Ekstasi, Pria Ini Ditangkap Polisi Tanjungpinang di Jalan Brigjen Katamso

“Kolam air itu cukup jernih airnya dan digunakan warga setempat untuk kebutuhan sehari harinya, tapi dijual oleh oknum kepala desa untuk mendapat keuntungan. Saya selaku pemilik lahan tidak ada mendapat dana kompensasi dari itu, bahkan lahan saya digunakan untuk diambil airnya tanpa seijin saya,” kata Badrun saat dijumpai media ini di Pengadilan Negeri.

Sementara itu Zulfitri Lurah Desa Penghujan Kecamatan Teluk Bintan mengaku mengambil air kolam itu dari tahun 2015 sampai sekarang dan memanfaatkan air kolam bekas hasil tambang. Lahan itu menurutnya merupakan ekstambang yang habis dikeruk dan kini berupa kolam.

BACA JUGA WAK:  Hari Pertama Berkantor, Bupati dan Wabup Asahan Dipakaikan Tanjak dan Selempang

Sementara alat SPAM itu dibangun oleh pemerintah Kabupaten dan Zulfitri selaku Kades setempat mengaku hanya meneruskan pembanguan itu serta meneruskan keinginan masyarakat yang membutuhkan air.

“Saya lakukan penyaluran air kepada masyarakat itu atas dasar kesepakatan bersama dan ada dasarnya tidak saling merugikan agar air itu bisa berjalan. Lahan itu adalah lahan kosong, untuk membuktikannya saya komparatif dalam hal ini, kita tunggu hasil keputusan sidang nanti,” katanya.(cr11)