BNPT Dorong Perguruan Tinggi di NTB Cegah Terorisme

    Ia terpengaruh doktrin ideologi yang menentang negara pada tahun 2007. Ia belajar tanpa filter, apapun yang masuk ia telaah mentah-mentah dan yang ia telaah adalah ajaran yang salah. Saat di penjara, Yudi menceritakan pertemuannya dengan Ali Imron.


    Menurut Yudi, saat awal di penjara ia tidak semakin lunak, tapi semakin keras dan semakin kuat paham radikalnya. Setelah tiga tahun di penjara, membuat hati dan pikirannya mulai terbuka dan menerima masukan-masukan dari ustadz-ustadz yang lain. “Dalam ajaran radikal meninggalkan jihad (amaliah) sama saja meninggalkan sholat, mereka bilang jihad hanya perang, padahal jihad bentuknya banyak,” kata Yudi.


    Pria yang divonis sembilan tahun dalam kasus terorisme ini mengungkapkan, seseorang yang memahami agama secara monotafsir ini kemudian suka memvonis orang lain salah. Kelompok radikal didasari pada paham intoleransi. Awalnya mengkafirkan pemerintah lalu membencinya, dan memeranginya.
    Setelah itu seseorang yang terpapar paham radikal naik ke level kekerasan. Orang yang dianggap musuh atau kafir dijadikan sasaran teror. “Radikalisme atau ekstremisme ini adalah orang yang memahami agama secara ini monotafsir, cuma satu tafsir dia pakai terus dia menjadi pribadi yang intoleran, semua orang dianggap salah dan sesat di luar dia,” kata Yudi.


    Dialog dihadiri 80-an mahasiswa, dosen, dan undangan lainnya dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pantia menyiapkan masker, hand sanitizer, dan face shield.


    Sementara itu Kabid Pengkajian dan Penelitian FKPT NTB, Dr Muhaimin MHum mengungkapkan hasil penelitian tahun 2020 bahwa Indeks potensi radikalisme di NTB mencapai 18.3. Indeks potensi radikalisme lebih tinggi pada dimensi Sikap (39.8), Indeks potensi radikalisme cenderung tinggi di kalangan laki-laki, gen Z serta pada mereka yang tidak aktif di internet dan sosial media, Indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi pada mereka yang eksklusivis.


    Terkait litersi digital, mayoritas publik masih pada posisi tingkat literasi digital masih rendah, persentasenya mencapai 63.3%,. Masih sedikit responden yang berperilaku AISAS (3.1%). Mayoritas responden (67%) telah mengakses internet. Internet & sosial media telah mencari sumber kedua informasi keagamaan. Konten-konten keagamaan yang terima oleh responden beberapa memicu provokasi (nasib saudara seiman, ujaran kebencian, dll)


    Sedangkan Kebhinekaan, indeks kebhinekaan di NTB mencapai 74.0, indeks kebhinekaan dari sisi pemahaman mencapai 89.4 pada sisi sikap 58.0, Indeks kebhinekaan cenderung rendah pada kalangan urban, laki-laki, gen Z serta mereka yang tidak aktif di internet dan mereka yang eksklusiv, Masyarakat yang eksklusif mencapi 12.1%, sedangkan yang inklusivis 87.9%.


    Untuk menangkal radikalisme dan terorisme, papar Muhaimin bisa dilakukan melalui revitalisasi nilai nasionalisme kebangsaan (4 pilar dan consensus bangsa. Juga melalui nilai agama melalui moderasi beragama, washatiyah, rahmatan lil alamin. Menggunakan nilai kearifan lokal dan terakhir pendidikan karakter.


    Dialog dihadiri 80-an mahasiswa, dosen, dan undangan lainnya dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pantia menyiapkan masker, hand sanitizer, dan face shield. (**)