BPN: Gerakan Kedaulatan Rakyat Bukan Makar, Melainkan Gerakan Ini

KepriNews.co.id, Jakarta – Anggota Dewan Pembina BPN Prabowo-Sandiaga Uno, Amien Rais, mengganti gerakan people power menjadi kedaulatan rakyat setelah anggota BPN Eggi Sudjana ditangkap polisi karena ungkapan people power.

Wakil Ketua Dewan Penasehat BPN, Tedjo Edhy Purdijatno, mengatakan kedaulatan rakyat bukan merupakan gerakan makar melainkan gerakan menuntut kejujuran penyelenggara pemilu.

“Gerakan rakyat ini bukan makar. Ini gerakan kedaulatan rakyat. Ingin menuntut keadilan, kebenaran, dan kejujuran dari penyelenggara pemilu,” kata Tedjo dalam acara deklarasi gerakan kedaulatan rakyat di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (17/5).

BACA JUGA WAK:  Lagu Ciptaan Ibu Sud Bikin Walikota Oxford Jatuh Cinta pada Indonesia

Tedjo menuturkan selama proses pemilu, BPN telah melaporkan sejumlah kecurangan ke Bawaslu termasuk kesalahan input data Situng. Namun, ia menilai Bawaslu tak memberikan sanksi apapun ke KPU.

“BPN juga telah melaporkan protes kepada Bawaslu dan baru kemarin dikatakan Bawaslu bahwa KPU melakukan kesalahan dalam situng. Tetapi apa hukumannya? Ya ndak ada, begitu-begitu saja,” kata dia.

Tedjo kemudian menceritakan penilaiannya terhadap sosok capres Prabowo. Ia mengatakan Prabowo bukan merupakan sosok psikopat seperti informasi yang ia dapatkan di tahun 2014.

BACA JUGA WAK:  Ternyata Peringatan Dini Gunung Semeru Tak Berfungsi

“Saya dulu 2014 pernah dikasih info bahwa Pak Prabowo itu seperti ini orangnya. Ada yang bilang psikopat lah. Setelah saya dekat dengan beliau sekarang ternyata jauh dari sana, tidak seperti itu,” kata Tedjo yang juga mantan Menkopolhukam.

Tedjo mengatakan apabila Prabowo diberikan mandat sebagai presiden, Prabowo mampu mengkonsolidasi keadaan pasca pemilu. Ia mengatakan kedaulatan rakyat merupakan kedaultan tertinggi untuk menentukan calon pemimpin.

BACA JUGA WAK:  Ternyata Peringatan Dini Gunung Semeru Tak Berfungsi

“Malah beliau mengatakan apabila nanti beliau diberi mandat rakyat, beliau akan rekonsiliasi dengan yang ada ini. Saya pernah belajar di sekolah dulu bahwa kedaulatan tertinggi adalah di tangan rakyat, jangan dianggap enteng,” tutup dia. ( Kepri News / *)

Sumber : kumparan.com