OPINI: Sudah Jurdilkah Pemilu Kita? (Catatan Pileg dan Pilpres 2019) Oleh: Albertus Muda, S.Ag

Albertus Muda, S.Ag

Setelah Pileg 17 April 2019, berdasarkan data C1 yang saya peroleh dari para saksi, saya memastikan bahwa saya tidak lolos menjadi anggota DPRD kabupaten Lembata periode 2019-2024. Saya sadari semuanya bahwa ini adalah ujian buat saya. Biarlah Allah yang tahu, mana yang benar dan mana yang salah.

Saya sangat menghargai kejujuran saudara-saudari yang telah dengan konsisten memilih saya walau banyak godaan terutama politik uang yang terus bergentayangan menggoda nurani bening mereka. Saya sangat menghargai kejujuran om/tanta, bapak/mama, saudara/saudari dan sahabat kenalan dalam menentukan pilihan pada saya. Bagi yang tidak memilih dalam arti mengingkari kata hati dan memilih yang lain karena tekanan atau uang, saya hanya bisa mengatakan, semua kita pasti akan mendapatkan imbalan dari apa yang telah kita lakukan.

Saya hanya berdoa agar ke depannya ada perubahan dalam berbagai aspek di wilayah kita. Hal ini bukan berarti memilih saya agar ada perubahan atau sebaliknya saya tidak terpilih sehingga tidak ada perubahan. Saya pun tidak pernah menaruh dendam pada om/tanta, bapak/mama, saudara/saudari dan kenalan semuanya. Mari sama-sama kita cari jalan penyelesaian bukan jalan pemecahan. Tantangan terberat kita adalah sejauh mana kita jujur pada diri kita sendiri? Jawabannya ada di dalam diri, pikiran dan hati kita masing-masing.

Bertolak dari dasar panggilan merasul di bidang politik, sebagai seorang beriman Katolik seyoguanya tetap merujuk pada ajaran Gereja yang tertuang dalam artikel nomor 14 tentang kerasulan awam dan Gaudium et Spes nomor 75 yang di dalamnya mengandung dua alasan pokok. Pertama, terdorong oleh cinta akan bangsanya (wilayah/kampung/kelurahan) dan oleh rasa tanggung jawab akan tugas-tugas sebagai warga negara (umat beriman) untuk memajukan kesejahtetaan bersama (bonum publicum).

Kedua, mengabdikan kecakapan dan bakat untuk berpolitik tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi atau keuntungan materiil bagi terwujudnya kesejahteraan umum (bonun commune). Kedua kutipan ini pantas direnungkan secara lebih mendalam oleh kaum awan Katolik, “Hendaknya orang-orang Katolik, yang mahir di bidang politik dan sebagaimana wajarnya berdiri teguh dalam iman serta ajaran kristiani, jangan menolak untuk menjalankan urusan-urusan umum” (AA 14).

Awan Katolik yang memiliki keahlian khusus di bidang politik didorong untuk ikut aktif dalam pergulatan politik praktis, sehingga mereka dapat menjadi garam, terang dan ragi bagi bidang kehidupan tersebut. Saya menyadari bahwa kompetensi atau potensi politik dalam diri saya sangat dominan sehingga mendorong saya untuk terus belajar dalam mengabdikan bakat dan kecakapan saya untuk masyarakat umum dan umat beriman. Saya terus menempah diri saya untuk menjadi 100% Katolik dan 100% warga negara.

Namun sangat disayangkan bahwa ada begitu banyak awam yang berani terjun dalam dunia politik tetapi belum memahami ajaran-ajaran Gereja dalam dokumen-dokumen di atas. Mengapa? Sebab, pendidikan politik secara internal dan eksternal belum berjalan dengan baik dan maksimal baik bagi para kader partai dan juga masyarakat umum. Bahkan ada yang sama sekali tidak tersentuhan dengan pendidikan politik warga. Dengan demikian, masyarakat kita menjadi sangat permisif dan oportunis menghadapi pesta demokrasi lima tahunan ini.

Jurdilkah Pemilu Tahun 2019?

Pemilu di Indonesia telah berlangsung 12 kali mulai tahun 1955 hingga saat ini tahun 2019. Kita tahu bahwa pada era orde baru pemilu yang dilaksanakan berasas langsung, umum, bebas dan rahasia yang disingkat LUBER. Semenjak masa reformasi asas pemilu ditambahkan dengan asas jujur dan adil (JURDIL) sehingga disingkat Luber-Jurdil.

Pelaksanaan pemilu kita nyatanya berbanding terbalik dengan asas pemilu di atas. Pemilu kita masih terus tersandera dan dibayangi politik uang (money politics). Politik uang layaknya hantu/setan yang selalu bergentayangan mengembuskan rasa cemas dan was-was bagi pelakunya, namub juga rasa nyaman bagi penerima fulus/duit dari politisi dan timnya yang hanya memenuhi syawat politik pragmatis dan oportunisnya sambil memanipulasi keluguan dan kepolosan masyarakat yang notabene berpenghasilan rendahan dan ekonominya rata-rata di bawah standar.

Output dari pemilu kita adalah pemimpin yang kita dapatkan ternyata dihasilkan lewat cara-cara kotor. Dibalik itu, kita pantas memberi apresiasi kepada para politisi yang murni bekerja untuk memenangkan hati konstituen/masyarakat dengan segala cara dan model pendekatan minus politik uang.

Kita tentu menyambut baik semua pemimpin yang terpilih baik DPRD kabupaten, DPRD provinsi, DPD RI, DPR RI dan Presiden-Wapres. Kita sadari bahwa pileg dan pilpres adalah ajang pertaruhan. Apakah para pemimpin yang terpilih adalah figur yang murni dipercaya rakyat ataukah sosok yang membajak kepercayaan itu dengan akal-akalan atau kecurangan?

Pemilu merupakan sarana untuk mendapatkan pemimpin yang sejati. Secara nasional hingga daerah tidak akan bangkit jika para pemimpinnya dipilih lewat cara-cara kotor. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang hebat hanya jika para pemimpinnya dihasilkan melalui pemilu yang bermutu dan bermartabat.

Nilai Tawar Politisi

Nilai merupakan sesuatu yang berharga yang terkandung di dalamnya dan memberi arti pada sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, rujukan memilih para politisi untuk duduk sebagai wakil rakyat dan presiden tentu merujuk pada bernilai tidaknya orang/figur yang dipilih. Nilai-nilai itu dapat diukur melalui tugas yang diemban seorang politisi atau calon politisi di bidang tugasya. Dari banyak tugas yang diembankan kepadanya sebenarnya mau menunjukkan bahwa orang tersebut sangat bernilai di mata pihak lain.

Hal ini bukan berarti yang lainnya tidak bernilai. Karena semua manusia bernilai di mata Tuhan. Maka sangatlah tidak bermutu jika orang yang dalam kehidupan sehari-hari, sebagai warga gereja maupun warga masyarakat jarang diberikan kepercayaan untuk mengemban tugas apapun apalagi hidup sosial kemasyarakatannya tidak pernah dirasakan masuarakat tetapi terpilih menjadi pemimpin hanya karena membajak kepercayaan masyarakat dan menukarkannya dengan uang, semen, sembako dll.

Bagi saya, memilih seseorang yang belum dikenal atau tidak dikenal tetapi hanya karena punya uang dan dipilih sama halnya dengan kita menumbuhsuburkan kejahatan di lembaga terhormat itu. Menukar suara dengan uang sama halnya dengan penjualan manusia. Masyarakat dengan tahu dan mau menjual nuraninya. Apakah mereka salah. Bisa ya bisa tidak. Semua tergantung berjalan tidaknya pendidikan politik terhadap warga.

Ada politisi yang tidak melakukan sosialisasi dan konsolidasi tetapi mendatangi warga dan menggenggam tangan mereka dengan menyelipkan amplop berisi uang 50.000 dan/atau 100.000 bahkan ada politisi yang berani membayar 500.000 atau 1000.000/kepala.

Cara di atas tentu tidak etis, melanggar asas pemilu dan undang-undang pemilu. Jika sedari awal politisi sudah berani langgar dengan tahu dan mau maka secara langsung kita sedang memelihara penjahat politik yang kinerjanya ke depan setelah mengemban tugas sebagai wakil rakyat dipenuhi dengan konspirasi dan kejahatan politik.

Mari kita budayakan budaya malu dan menumbuhkan sikap dan sportivitas menang tanpa kecurangan. Meski kita telah terjebak dan dijebak tetapi kita belum terlambat. Sebelum nurani kita tumpul dan akhirnya suatu saat mati maka kita pulihkan dengan terus membinanya agar murni dan jernih kembali untuk bisa membedakan mana yang salah mana yanga benar, mana yang busuk dan mana yang baik.

Hidup kita saat ini telah menjadi begitu lemah, karena tidak ditata berdasarkan iman dan ajaran agama. Hidup tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai budaya dan cita-cita mulia kehidupan berbangsa. Hati nurani tidak dipergunakan, perilaku tidak dipertanggungjawabkan kepada Allah dan sesama. Uang menjadi terlalu menentukan jalan kehidupan. Karena itu, Indonesia hampir selalu gagal untuk memiliki pemerintahan yang bersih dan baik (NP KWI 2004, hal. 2-3).

Selamat bagi yang menang dengan hati dan jiwa pejuang sejati. Selamat juga bagi yang menang dengan cara culas dan kotor. Siapkan diri untuk mengabdi pada rakyat dengan segala kepentingan dan agenda yang siap ditunaikan. Jangan bohongi rakyat. Jangan bodohi mereka. Berhenti manipulasi rakyat. Ingat, bintang jatuh hari kiamat. Tiba waktunya pengadilan akan dilaksanakan. Apakah Anda terpilih kembali 5 tahun berikutnya atau palu vonis hukuman dijatuhkan. Mari berikan pendidikan politik yang baik dan wujudkan politik yang beretika dan mewartakan nilai-nilai moral untuk kemajuan dunia perpolitikan ke depan.

Gubuk Tua Waikomo