Bila Jenuh di Kota Kupang, Mampirlah ke Taman Baca “LoweWini”

KUPANG- Daya Magis Duta Baca Najwa Sihab atau Mata Najwa di Nusa Tenggara Timur, sampai saat ini masih terasa.

Kampanye literasi yang dikumandangkan oleh Najwa di Kupang dan Lembata tahun 2017 silam, telah berhasil mengubah cara pandang masyarakat NTT untuk gmembaca. Tidak saja pada generasi muda, kalangan mahasiswa, anak SMA, SLTP, SD, dan TK, tetapi juga para orangtua. Membaca akhirnya menjadi salah satu pilihan mengisi waktu luang, selain berekreasi.

Dan saat ini, sejumlah kabupaten di wilayah NTT, berlomba-lomba membuka Taman Baca. Ada yang secara kolektif dan ada yang secara pribadi. Yang penting ada Taman Baca dan bisa digunakan oleh anak-anak dan masyarakat secara umum.

Di Kupang ada sejumlah Taman Baca yang menyebar di beberapa wilayah. Salah satunya yang lagi digemari yakni Taman Baca “LoweWini” yang terletak di Jalan Oekalipi, Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Sepintas mendengar ‘LoweWini”, pasti dalam benak, orang akan bertanya-tanya apa arti nama ini. Tetapi bagi orang Sabu, nama ini memiliki arti yang mendalam.

LoweWini berasal dari bahasa Sabu. Lowe artinya Banyak, Wini artinya Keluarga. Jadi LoweWini artinya Banyak Keluarga. Itu berarti akan selalu mendukung dalam suka dan duka,Tidak terpisahkan.Atau seperti dalam lirik lagu Sabu ‘O… Naweni Tana e’.

Begitulah nama itu disematkan sebagai Taman Baca oleh Linda Tagie sang pemilik Taman Baca LoweWini.

Linda Tagie yang ditemui Keprinews.co.id mengungkapkan, Tak pernah terpikir dalam benaknya untuk membuka Taman Baca. Itu dimulainya dengan hal yang biasa-biasa. Beberapa buku koleksi pribadi miliknya, dipinjamkan kepada anak-anak atau kepada kerabat kenalannya, tetangga yang suka membaca. Dilihatnya, ternyata buku-buku koleksinya banyak diminati. Dari situlah Linda terinspirasi membangun Taman Baca.

“Mulanya buku-buku pribadi, saya pinjamkan dan ternyata diminati banyak orang untuk membaca. Saya akhirnya buka Taman Baca. Saya pikir daripada mubazir lebih baik dipinjamkan ke orang lain, supaya ilmu dalam buku-buk itu berguna bagi banyak orang,” ungkap Linda Tagie, Sabtu (4/5/2019).

Perempuan asal Sabu itu mengatakan, setelah berhasil membuka Taman Baca LoweWini,buku-buku tersebut telah dipinjamkan pada beberapa bulan yang lalu.Dan baru diunggah ke Medsos pada tanggal 23 April 2019 bertepatan dengan Hari Buku Sedunia 23 April 2019.

“Program meminjam buku sudah berjalan beberapa bulan. Tapi baru diunggah ke Medsos tanggal 23 April 2019 kemarin, bertepatan dengan Hari Buku Sedunia,” kata Linda.

Menghidupi dan memulai Taman Baca LoweWini, ternyata Linda tidak sendirian. Sebelum diresmikannya LoweWini, Linda mencari para relawan yang bisa membantunya mengelola program-program di Taman Baca.

Sulit memang, tetapi Linda yakin semuanya bisa diatasi. Akhirnya didapatnya beberapa Relawan. Para Relawan tersebut akan menangani beberapa kelas. Di antaranya Kelas Mengenal Abjad, Mengeja, dan Mewarnai untuk anak usia 3-7 tahun. Kelas ‘Membaca’ untuk anak-anak kelas 3-5 SD, dengan tujuan agar mereka lancar membaca. Sedangkan untuk anak kelas 5-6 SD yang sudah lancar membaca dan anak-anak SMP, ada kelas bahasa inggris. Kelas Bahasa Inggris dibuat untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi ujian nasional.

“Program-program itu dilaksanakan sekali seminggu, sedangkan setiap hari, anak-anak boleh datang membaca dan meminjam buku,” kata Linda.

Dijelaskannya, para relawan diberikan tanggungjawab masing-masing. Untuk saat ini, Kelas ‘Mengenal Abjad, Mengeja, dan Mewarnai’ dibina oleh Relawan Tia Matutina dan Soya Henuk.
Kelas ‘Membaca’ dibina oleh Relawan Maria Elviana dan Inki Beda. Kelas ‘Bahasa Inggris’ dibina oleh Relawan Irene S. Malaikosa dan Karlin Arakian.

“Setiap pelajaran yang hendak diberikan kepada anak-anak wajib dikirimkan ke saya sehari sebelum kegiatan untuk ditinjau kembali. Sebelum kelas dimulai, semua relawan harus diskusi bersama.
Begitu juga setelah itu, kami evaluasi bersama, apa saja yang sudah baik dan apa yang harus diperbaiki,” jelas Linda.

Namun kesungguhan Linda tidak selesai setelah mendapatkan relawan. Linda terus mencari. Dari rumah ke rumah, Linda mencari anak-anak. Didatangi satu per satu dan dijelaskannya ke para orangtua, tentang niat tulusnya atas kehadiran Taman Baca LoweWini. Hasilnya, puluhan anak berhasil dirangkulnya.

“Setelah mendapat relawan, saya mencari anak-anak dari rumah ke rumah, bertemu orang tua mereka. Dan saya berhasil,” ungkapnya.

LoweWini sungguh Menarik dan berbeda dari Taman Baca lainnya. Ada metode pendekatan yang digunakan LoweWini untuk menghindari kejenuhan belajar. Metode B4 jadi pilihan karena dianggap tidak formal.

“Biar anak-anak tidak jenuh, kami pakai metode Belajar, Bermain, Bertumbuh dan Bersama. Jadi, setiap sesi kami isi dengan permainan-permainan yang mengandung nilai-nilai edukasi. Di setiap akhir pertemuan, kami akhiri dengan permainan tradisional. Selain belajar dengan cara yang seru, mereka dialihkan sejenak dari televisi dan gawai,” beber Pegiat Taman Baca LoweWini.

Satu hal lagi yang menjadi unik, LoweWini memiliki salah satu teman membaca yang Tuna Wicara. Itu yang menjadi tantangan besar. Para relawan harus kreatif bagaimana menarik perhatiannya untuk belajar bersama anak-anak lainnya.

“Satu teman kami yang difabel wicara, itu tantangan buat kami relawan. Kami berusaha menarik perhatian dia untuk belajar bersama teman-temannya,” kata Linda.

Kata Linda, sejauh ini anak difabel wicara, terlihat nyaman di kelas dan belajar mengenal abjad, mengeja, dan mewarnai. Anak-anak lain pun menerimanya dengan gembira.

“Dia nyaman di kelas. Tiap hari dia datang ke Taman Baca untuk mendengar saya membacakan cerita untuknya,” kata Linda.

Linda berharap, Taman Baca LoweWini dapat memberikan yang terbaik buat masyarakat NTT khususnya generasi muda Kota Kupang. Bahwa sudah saatnya membaca harus menjadi kebutuhan. “Orang pintar baca buku. Membaca membangun Bangsa.

Bisa ikuti kami di ig @lowewini halaman fb @lowewini atau email lowewini@gmail.com

(Israel)