Mahasiswa Surakarta Akui SBD Sungguh Ramah dan Menyenangkan

Keprinews.co.id,TAMBOLAKA-Stigma buruk terhadap Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) yang sering dianggap zona merah dan rawan konflik, pelan-pelan berangsur baik.

Pasalnya, 17 mahasiswa kulia kerja nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret Surakarta mengakui, SBD sangat ramah dan menyenangkan selama satu bulan lebih hidup bersama masyarakat. Dan kesan setiap orang bahwa semua orang NTT berwatak keras dan kasar, tidak selamanya.

“Sudah satu bulan lebih kami tinggal dan hidup di SBD.Anggapan orang luar, SBD kurang menyenangkan tidak ada. Kami rasakan masyarakat sangat ramah dan menyenangkan,” ungkap Ketua Rombongan KKN, Aditya Brilian, Minggu (19/8/2018).

Lanjut Aditya, ada beberapa hal menarik yang mengesankan rombongan KKN. Di antaranya, orang SBD masih hidup secara komunal ketimbang orang Jawa yang sudah sangat individual. Kehidupan toleransi antar umat beragama sangat tampak. Selain itu, SBD sangat kental dengan adat dan budaya pada setiap kehidupan sosialnya.

“Kami rasakan SBD sangat kental dengan adat berbeda dengan Jawa. Ciri khas orang SBD selalu pakai pakian adat ke gereja dan acara-acara. Selain itu makan siri pinang. Dan ini keunikan yang harus dilihat orang Indonesia,” jelas Aditya.

Dikatakannya, meskipun dengan waktu yang relatif singkat, namun ada beberapa hal kecil yang telah diberikan kepada masyarakat Desa Kalembu Weri dan Desa Pero. Termasuk bagi anak-anak sekolah dasar.

“Ada program-program yang kita buat di sekolah dasar. Selain itu kita memberikan penyuluhan tentang kopi dan tenun sumba. Kopi itu mahal kalau di Jawa, sehingga harus dijaga dan dimanfaatkan betul,” kata Aditya.

Diwaktu bersamaan Bupati SBD Markus Dairo Talu yang diwakili Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Sumba Barat Daya, Alexander S. Kodi mengatakan, sebagai pemerintah daerah, sangat kecewa atas kurangnya tanggapan pemerintah desa Kalembu Weri dengan kehadiran mahasiswa KKN.

Kehadiran mahasiswa KKN, harus dimanfaatkan oleh Pemdes Kalembu Weri dan Pero. Misalkan dalam pembenahan administrasi dan hal-hal penting terkait penyelenggaraan pemerintahan desa.

“Atasnama Pemda, saya sangat kecewa kehadiran mahasiswa kurang ada tanggapan dari pemerintah desa. Seharusnya manfaatkn mahasiswa untuk bisa mendapat hal-hal positif yang bisa dibagikan.Itu seharusnya dilakukan,” kata Alexander.

Dikatakan Alexander, waktu KKN sangat sedikit. Sehingga diharapkan ke depannya, waktu KKN bisa ditambahkan menjadi dua bulan. Banyak hal yang harus dibagikan kepada masyarakat, begitupun sebaliknya.

“Kalau bisa sampaikan ke pimpinan perguruan tinggi, waktu KKN jangan hanya sebulan. Hubungan masyarakat dan mahasiswa sangat kurang. Banyak hal yang harus dibagikan untuk masyarakat. Dan yang mahasiswa tidak dapat, bisa didapatkan di sini. Budaya Jawa dan Sumba pasti berbeda. Ada hal positif bisa ditingktkan,” katanya.

Selain itu, sebagai pemerintah daerah, Alexander meminta agar nama-nama jalan yang dibuat para mahasiswa bersama masyarakat, bisa ditetapkan dengan peraturan desa (Perdes). Hal itu memudahkan pada saat ditetapkan dalam peraturan daerah (Perda) SBD.

“Saya minta nama jalan bisa ditetapkan dengan Perdes. Dan itu dimusyawarahkan, disahkan dengan Perdes. Saya juga berharap Pemdes dua desa bisa ikut berproses,” pintanya.

Alexander berharap, secepatnya ada perjanjian kerjasama atau memorandum of understanding (MoU) yang dibangun antara pihak perguruan tinggi dan Pemda SBD. Hal ini dilakukan agar anak-anak dari SBD, bisa mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

“Kita berharap ada MoU dengan kampus, sehingga anak-anak dari sini bisa kulia di sana dan bisa dapat beasiswa,” harapnya

“Atasnama Pemda, kami juga mohon maaf karena sejak adik-adik tiba, kita kurang ada komunikasi. Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan kami mohon maaf. Titip salam kami tuk pimpinan perguruan tinggi. Ada hal positif bisa dibawa dari SBD dan disampaikan. Sekali lagi terima kasih,” pungkas putra Wewewa.

(Ale)


 Advertoria Sanford 18/9/2017