Polisi Biarkan Besi Ulir KonTak Nyaris Hantam Pendukung MDT-GTD

KepriNews.co.id,TAMBOLAKA-Pendukung Calon Bupati/wakil bupati Sumba Barat Daya (SBD) Markus Dairo Talu (MDT)-Gerson Tanggu Dendo (GTD), warga Desa Watu Kawula SBD, nyaris dihantam Pelontar Besi Ulir dari Katapel, Kamis (7/6/2018) sekitar pukul 13.00 Wita.

Serangan itu berasal dari para pelaku masa Calon Bupati/wakil bupati Kornelis Kodi Mete-Kristian Taka (KonTak).

Mulanya pada Pukul 11.30 Wita, masa KonTak melakukan konfoi dari rumah Cabup Kornelis Kodi Mete melalui jalan dalam kota Waitebula, Ranggaroko, Lokaki, Kere Robo, dan belok simpang Wee londa melintas jalan Wee londa. Sekitar Pukul 13.00 Wita, di simpang Pabadana terjadi insiden penyerangan terhadap pendukung MDT-GTD.

Saat kejadian itu, Polisi sempat memberikan tembakan peringatan sebanyak empat (4) kali. Namun sayangnya, pelaku dan sejumlah senjata tajam yang digunakan masa KonTak saat itu, tidak diamankan aparat kepolisian yang tengah mengawal konfoi KonTak menuju lokasi kampanye.

“Iya benar saya dipukul dan nyaris kena besi ulir yang ditembak pakai Katapel dari masa paket KonTak. Ini besi 12 mili dan mereka potong seruas jari. Saya simpan jadi bukti. Polisi ada saat itu dan sempat kasih tembakan peringatan, tapi tidak tangkap dan amankan senjata tajam mereka,” ungkap Melki alias Bapak Domi warga Watu Kawula.

Kata Melki, masa paket KonTak yang menyerangnya saat itu, sempat mengejar Jhoni warga Watu Kawula yang tengah bersamanya di lokasi kejadian.

“Mereka juga kejar ade Jhoni,” katanya.

Menurut Melki dan warga di tempat kejadian, saat kejadian itu, para pelaku penyerangan melompat dari mobil milik Leti Ama Aris warga Palla. Dan dugaan mereka, serangan itu dilakukan oleh anak buah Leti Ama Aris.

Anggota Tim Pemenangan MDT-GTD, Nyong Mandeta mengatakan, aparat kepolisian harus tegas mengamankan para pelaku dan senjata tajam yang digunakan. Hal ini dilakukan agar tercipta Pilkada SBD yang aman dan damai.

“Polisi harus tegas. Kalau pelaku dan senjata tajam tidak diamankan, maka ini ada upaya pembiaran yang sedang dibuat aparat,” kata Nyong.

Selain itu Kepala Dusun III Wee Londa, Hendrikus Yulius Solo mensesalkan, dalam kampanye tersebut, masa yang dibawa berasal dari zona lain. Dan hal ini melanggar aturan. Namun tidak disikapi pihak penyelenggara Pilkada.

“Masa yang dibawa itu dari zona lain. Ini saja sudah langgar aturan. Panwas, KPU ada di mana?” ujar Hendrik.

(Al-alvin)


 Advertoria Sanford 18/9/2017