Persembahan Untuk Sumba Barat Daya (Noker Keraf,CSsR)

Persembahan Untuk Ulang Tahun
Kabupaten Sumba Barat Daya
(Noker Keraf, CSsR Lamalera)

Pada hari ini merupakan hari lahirnya kabupaten Sumba Barat Daya yang ke-11. Hari dimana masyarakat SBD perlu berbangga dan bersykur atas semua keberhasilan yang telah dialami sejak awal mula hingga hari ini. Kita berharap bahwa di hari raya ulang tahun Kabupaten Sumba Barat Daya yang ke 11 ini kita pun akan mempersiapkan diri menghadapi PILKADA 27 Juni mendatang. Momen ini mengajak kita untuk menentukan siapa pemimpin daerah yang berkualitas, tranformatif, dan integritas yang mampu mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas dan relevan. Harapan besar akan lahir pemimpin yang dapat meningkatkan kesejaterahan masyarakat, meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan daya saing daerah adalah harapan rakyat banyak.

Untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat memang tidak mudah, diperlukan akuntabilitas dan integritas dari pemimpin, yang mampu menggerakan seluruh elemen masyarakat, untuk menggali semua potensi yang ada di daerah, guna dimanfatkan untuk kepentingan rakyat banyak. Di tengah dinamika peralihan masa jabatan yang diwarnai dengan pesta demokrasi masyarakat Sumba Barat Daya memimpikan sosok pemimpin tangguh dan cerdas. Karena jatuh bangunnya kita tergantung pada pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak bisa memimpin dengan baik, maka masyarakat tidak mau lagi mengikuti. Oleh sebab itu, kualitas kita tergantung pada kualitas pemimpin. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin. Rahasia utama seorang pemimpin adalah memiliki kekuatan terbesar dari seorang pemimpin bukan dari kekuasaannya.

Sumba Barat Daya hari ini, tentu berbeda dengan kemarin, atau esok hari. Tentu kita semua berharap agar esok hari dapat melihat Sumba Barat Daya yang aman, damai, tentram dan sejahtera. Hal tersebut akan terwujud apabila kita telah menemukan sosok pemimpin yang tepat pada tanggal 27 Juni nanti.
Diharapkan kepemimpinan Sumba Barat Daya kini dan masa depan memiliki jiwa pemimpin yang kontinuitas, kesetaraan, dan adaptif (Haryatmoko, 2011:16). Kontinuitas dipahami sebagai tindakan keberlanjutan. Jadi pelayanan masyarakat tetap dijalankan sebagaiman mestinya meski berhadapan dengan berbagai kesulitan keuangan. Setidaknya pelayanan minimum tetap dilakukan. Kesetaraan berarti tidak adanya diskriminasi dalam hal menjalankan tanggung jawab kepemimpinan. Konsep ini ingin menekankan cara pandang yang sama bagi masyarakat. Adaptif berarti selalu megikuti perkembangan kebutuhan sosial, bahkan mungkin harus meninggalkan kegiatan-kegiatan tertentu bila dapat dijamin dan secara sosial bisa diterima oleh pelaku-pelaku lain. prinsip Adaptif pada dasarnya mau menjaga keseimbangan pelayanan publik agar bisa mencapai tujuan kolektif.

Selain ketiga prinsip itu, penulis mencoba melihat satu prinsip lagi yaitu transformatif. Prinsip transformatif dimaksudkan untuk mengkondisikan kegiataannya dan mampu menghasilkan tranformasi yang ditandai dengan perubahan pada setiap tahapan kegiatan. Logikanya ialah menempatkan pelayanan dalam situasi sedemikian rupa sehingga menginspirasi, mengembagka, dan memberdayakan masyarakat. Sejak kabupaten Sumba Barat Daya berdiri hingga saat ini, model kepemimpinan transoformasi ini telah menjadi nilai yang menginspirasi dan memberdayakan individu, kelompok, dan organisasi. Hal ini kita bisa lihat dalam beberapa perkembangan infrastruktur yang telah terjadi. Perkembangan infrastruktur yang terjadi sejak awal kepemimpinan hingga saat ini menginspirasi kita untuk bisa memilih dan memberi suara demi Sumba Barat Daya.

Pemimpin transformatif harus menyampaikan visi kepemimpinan secara jelas dan terbuka, dan meyakinkan setiap masyarakat bahwa bekerja dengan berorinetasi pada pencapaian visi kepemimpinan akan membawa masyarakat pada tujuan hidup lebih baik. Dalam mengkomunikasikan visi hendaknya dijelaskan manfaat yang akan diperoleh oleh semua masyarakat, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan meningkatkan bonum commune. Pernyataan visi mengandung unsur kualitas yang akan dicapai, sehingga apabila seorang pemimpin berhasil dalam mengkomunikasikan dan menginternalisasikan visi kepemimpinan kepada semua masyarakat, maka mereka akan bekerja dengan mengutamakan kualitas.

Selain itu, pemimpin transformaif harus optimis dan percaya diri dalam bertindak. Rasa percaya diri seorang pemimpin secara otomatis menular, mengalir dan meningkatkan keteguhan hati masyarakat untuk bertindak dalam menghasilkan kinerja yang lebih baik. Keteguhan hati dapat membangun rasa optimisme masyarakat dan selanjutnya rasa optimisme dapat membuka peluang besar untuk mengembangkan potensi diri, sehingga menjadi modal dalam membangun sebuah masyarakat yang adil dan sejahtera. sedangkan perasaan pesimisme merupakan penyakit yang dapat membatasi dan menutup diri untuk terbuka terhadap masyarakat dan bertindak, oleh karena rasa pesimisme membelenggu pikiran kita dengan kelemahan dan kesulitan dalam menghadapi masalah. Memang tidak mudah membangun optimisme secara holistik atau meyeluruh dalam tatanan masyarakat, tetapi seorang pemimpin transformasi harus mampu untuk berbuat agar masyarakat benar-benar menjadi optimis. Sebagai masyarakat sumba barat daya kita pun yakin bahwa kita pasti bisa dan mampu mebangun daerah ini ke depan.

Politik sejatinya merupakan alat untuk mencapai kesejahteraan bersama (bonum commune). Dengan demikian, berpolitik harusnya tetap memperhatikan koridor hukum yang sudah digariskan. Kemenangan mesti diposisikan sebagai dampak dari usaha, bukan tujuan. Yang dicari semsetinya adalah siapa yang pantas atau layak menjadi pemimpin Sumba Barat Daya ke depan. Prinsipnya tidak menjadi persoalan siapapun yang akan menang. Kita hanya perlu proses demokrasi berjalan dengan baik. Kita semestinya memilih orang yang pantas berdasarkan standar tertentu. Selain itu, kita harusnya independen dari pengaruh-pengaruh apapun. Sebagai masyarakat Sumba Barat Daya, kita hendaknya memilih berdasarkan pada kebebasan, dan kejujuran suara hati.


 Advertoria Sanford 18/9/2017