Pengakuan Kornelis Mete Yang Mengejutkan

Keprinews.co.id,TAMBOLAKA- Pilkada Sumba Barat Daya yang dinanti 27 Juni 2018, tinggal dua bulan lagi mencapai waktunya. Tensi politik kian memanas. Para calon Bupati/wakil bupati terus bergeriliya, untuk mengambil simpati hati rakyat, memenangkan pertarungan pesta demokrasi ini.

Tragedi, dan taktik bulus politik masa lampau oleh Paslon Bupati/wakil bupati tertentu, dijadikan testimoni Pilkada 2018. Para pelaku sejarah kelam Pilkada 2013, mengungkap satu per satu ‘trik kotor’ Paslon tertentu, yang kembali lagi ikut dalam kontestasi Pilkada 2018.

Kornelis Mete, Mantan Kepala Desa Homba Karipi, Kecamatan Kodi Utara salah satu dari sekian pelaku ‘politik kotor’ 2013. Kornelis Mete mengungkap, dirinya telah merasa bersalah dan berdosa kepada Calon Bupati Markus Dairo Talu (MDT).

Pasalnya, di Pilkada 2013, Kornelis Mete telah melakukan penggelembungan suara di Desa Homba Karipi untuk Paslon tertentu. Sebagian besar surat suara pemilihan di TPS, dicoblosnya dengan paku 15 centimeter.

“Bapak MDT saya merasa sangat bersalah dan berdosa. Saya salah satu yang lakukan penggelembungan suara waktu Pilkada 2013. Saya tusuk surat suara pakai paku 15 centimeter,” ungkap Kornelis Mete dalam kampanye, Minggu (15/4) di Loura Kota.

Pengakuan Kornelis Mete saat itu, mengejutkan ribuan pendukung MDT-GTD. Para pendukung tidak menyangka, Kornelis Mete berani membeberkan ‘trik kotor’ dan mengakui kesalahannya di hadapan publik.

Kornelis Mete mengatakan, tindakan tidak terpuji yang dilakukannya tersebut, merupakan perintah dari salah satu pasangan Cabup/Cawabup tertentu saat itu. Cabup/cawabup tersebut, ingin menang menjadi Bupati/wakil bupati SBD. Namun segala upaya dilakukan saat itu gagal. MDT tetap menjadi pemenang saat itu.

“Saya salah satu yang lakukan penggelembungan suara. Saya disuruh paket Cabup/cawabup tertentu, dan ternyata sia-sia,” kata Kornelis Mete.

Lanjutnya, dan dalam masa kepemimpinan Bupati MDT, banyak program pembangunan yang telah dirasakan. Pembangunan jalan, listrik, bantuan beras gratis , alat pertanian gratis, alat tenun gratis, bibit gratis dan sejumlah program gratis lainnya. Selain itu harga Jambu Mente yang sudah mencapai Rp 25 ribu per kilogram. Semua hal ini, telah menyadarkannya, untuk tidak lagi salah memilih.

“Selama tiga tahun memimpin, bapak MDT telah banyak berbuat dan bantu kami masyarakat kecil. Kami sudah nikmati bukti program nyata itu. Kami siap dukung dan kerja agar bapak MDT-GTD terpilih. Kami tidak mau salah pilih. Program gratis kami dapat, harga jambu meningkat,” kata Kornelis.

Hal senada diungkapkan Tokoh muda Kodibangedo, Ndaro Marapu (DM) dan rekan-rekannya. Mereka mengakui, telah dibodohkan dan tipu oleh Paslon tertentu pada Pilkada 2013. Mereka akhirnya menjadi korban, dikejar dan ada yang harus masuk penjara. Tetapi Pilkada 2018, mereka tidak akan kembali diperbodohkan. Nyawa sekalipun akan dipertaruhkan untuk MDT-GTD.

“Kami tidak lagi mau diperbodoh dengan uang atau janji manis. Kami sudah mengerti. Untuk apa kami berjuang, tidak menang dan jadi korban. Kami saat ini siap bekerja untuk bapak MDT-GTD,” ungkap Ndaro Marapu.

“Pilkada 2013, kami tidak pilih, tapi dalam tiga tahun masa kepemimpinan bapak MDT, pembangunan jalan, air, listrik dan bantuan gratis, kami sudah nikmati. Kami tidak mau jadi bunglon atau tikus berlambung dua. Hanya kejujuran hati yang kami punya untuk MDT-GTD,” pungkas DM.

(Israel)


 Advertoria Sanford 18/9/2017