Marapu Dulu Jadi Lawan, Sekarang Jadi Kawan

Keprinews.co.id,TAMBOLAKA- Jurus politik ala Calon Bupati/Wakil Bupati Markus Dairo Talu- Gerson Tanggu Dendo, “Politik Santun Tanpa Balas Dendam” ternyata menjadi daya tarik tersendiri di Pilkada 2018.

Bahkan “Politik Tanpa Balas Dendam” MDT, menjadi Magnet yang menembus masyarakat etnis Marapu “Yang dipertuan atau dimuliakan”.

“Marapu punya wibawah, punya harga diri yang harus dijunjung. Dan Marapu harus punya pemimpin, yang bisa mengangkat dan menjaga harga diri Marapu di tanah Sumba Barat Daya,” ungkap Sekretaris Nasdem SBD, Ratu Wulla Talu di Pondok Merapu, Desa Ana Lewe, Kampung Rambi, Sabtu (17/3/2018).

Kampung Rambi yang pada Pilkada 2013 dijadikan tempat menyusun strategi hitam, menyerang dan mengalakan Markus Dairo Talu, tiba-tiba saja sontak kagum mendengar suara lantang Ratu Talu.

Lautan manusia Marapu dalam komando Daroh Marapu (DM) serentak berdiri dan mengacungkan jempol sambil mengatakan,”MDT-GTD lanjutkan, lanjutkan, kami siap dukung MDT-GTD”

Ratu Talu saat itu menginginkan, agar kaum Marapu bisa mendapat perhatian khusus oleh pemerintah SBD. Selain itu, revolusi pertanian akan terus digenjot untuk para petani, masyarakat Marapu di wilayah Kodi dan SBD secara keseluruan.

“Selain revolusi pertanian yang ditingkatkan terus, masyarakat Marapu juga harus diperhatikan khusus. Mereka punya harga diri yang harus diangkat,” ungkap Ratu Talu.

Musuh politik bebuyutan dan para pendukung di Kodi, yang menjadi lawan sejak Pilkada 2013, kini pada Pilkada 2018, berbalik arah, mendukung MDT-GTD. Musuh politik telah jadi kawan bukan lawan.

“Dulu kita jadi musuh, sekarang kita jadi kawan. Mari kita bersatu, bahu membahu menjemput pembangunan lima tahun akan datang,” ungkap Aloysius Nasari, Tokoh Masyarakat Kodi Utara.

Di antara kurang lebih seribu warga Marapu yang hadir saat itu, Aloysius Nasari mengatakan, sudah saatnya masyarakat SBD khususnya Marapu, memilih Bupati/Wakil Bupati, yang bisa membangun Sumba Barat Daya. Dan MDT-GTD merupakan pemimpin SBD dalam lima tahun ke depan. Sehingga masyarakat Kodibangedo, Marapu harus bisa menentukan pilihan tepat, menjemput pembangunan ini.

“Ini tujuan dan prinsip kita mendukung MDT-GTD. Dan ini harga mati. Bersama rakyat dengan hati, kita sudah melihat fakta pembangunan yang selama ini kita nikmati. Baru tiga tahun, semua melihat dan merasakan. Yang bilang tidak, hanya orang yang sengaja tuli dan buta,” kata Aloysius Nasari.

“Bohong kalau mereka bilang Wewewa dan Kodi, MDT-GTD tidak ada suara. Itu bohong. Mari kita dukung, pilih MDT-GTD jemmput pembangunan lima tahun,” tambah Nasari.

Tokoh Masyarakat Kodi, Soleman Tari Wungo (STW) pada saat itu mengatakan, politik Pilkada SBD saat ini, sedang mempertontonkan politik tidak sehat, penuh nista dan ancaman. Masyarakat harus sabar dan terpancing isu-isu yang nantinya menimbulkan keributan di masyarakat.

“Politik sekarang tidak sehat. Politik penuh fitnah, nista dan ancaman. Dan itu melanggar Pilkada. Kita jangan terpancing. Kita punya iman yang kuat. Mari kita terus kerja mendukung MDT-GTD sebagai bupati/wakil bupati 27 Juni mendatang,” kata STW.

Kader Golkar Herybertus Pemu Dadi mengingatkan, masyarakat tidak usah percaya dengan informasi bahwa MDT tidak pernah berbuat untuk SBD.

Pasalnya, sebagai masyarakat petani, telah menikmati berbagai bantuan alat pertanian, melalui program revolusi pertanian. Dan revolusi pertanian akan terys dilanjutkan untuk membantu para petani di SBD.

“Revolusi pertanian akan dilanjutkan karena kita ini petani. Alat pertanian saja dibagi gratis. Kalau dulu petani harus bayar Rp 9-15 juta baru bisa miliki hand traktor. Dan ini hanya dibuat MDT. Tidak ada bupati yang berani melakukan itu,” pungkas Pemu Dadi.

(Alvin Lamaberaf)


 Advertoria Sanford 18/9/2017