Video Diduga Rekaman Penyiksaan TKW Adelina Sau Tersebar

Keprinews.co.id,KUPANG- Viral di Malaysia, sebuah video yang diduga merupakan potret penyiksaan yang dilakukan oleh majikan kepada seorang tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia.

Video tersebut dikaitkan dengan meninggalnya TKW asal Indonesia Adelina Sau yang diduga dibunuh oleh majikannya.

Dilansir dari Star Online Malaysia, pihak kepolisian Malaysia telah angkat bicara terkait munculnya video penganiayaan tersebut.

Polisi Penang membantah klaim yang mengatakan bahwa video tersebut merupakan video TKW Indonesia, Adelina.

Kepolisian mengaku sudah mempelajari video yang viral tersebut dan memastikan bahwa lokasi video berbeda dengan lokasi penganiayaan Adelina. Namun kepolisian juga tidak mengetahui di mana lokasi dalam video tersebut.

“Kami juga telah memastikan bahwa wanita dalam video tersebut bukan tersangka dalam kasus (Adelina),” kata polisi Penang, Nik Ros Azhan.

“Kami tidak memiliki petunjuk di mana video itu difilmkan,” imbuhnya.

Selain itu, Nik Ros Azhan juga mengonfirmasi bahwa sampai saat ini belum ada laporan terkait video tersebut ke kepolisian.

Video berdurasi sekitar 2 menit tersebut memperlihatkan sosok wanita tua yang berulang kali menendang dan menginjak kepala seorang wanita yang usianya tampak lebih muda.

Selain itu, wanita tua itu juga memukuli wanita muda dengan tongkat kayu berkali-kali. Jika itu bukan Adelina, semoga itu juga bukan TKW Indonesia lainnya.

Diberitakan sebelumnya, majikan yang menyiksa Adelina terancam mendapat hukuman sangat berat.

Hal itu terungkap ketika Pelaku yang bernama Ambika menjalani persidangan di Pengadilan Bukit Mertajam Rabu (21/2/2018).

Diwartakan The Star Online, Hakim Muhamad Anas Mahadzir membacakan dakwaan kepada perempuan 59 tahun tersebut.

Ambika didakwa telah menyiksa Adelina, TKI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga dia meninggal 11 Februari lalu.

Ambika dianggap melanggar Pasal 302 Hukum Pidana dengan ancaman maksimal vonis mati jika terbukti bersalah.

Ambika datang ke ruang sidang tanpa diwakili oleh kuasa hukumnya.

“Terdakwa tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membela dirinya,” ujar Malay Mail dalam reportasenya.

Sementara anak Ambika, R Jayavartiny, didakwa telah mempekerjakan imigran ilegal sejak Maret 2017 hingga 10 Februari 2018.

Perempuan 32 tahun tersebut dianggap melakukan pelanggaran terhadap Pasal 55 B ayat 1 Hukum Imigrasi.

Jika terbukti bersalah, Jayavartiny bakal dihukum selama satu tahun, dan denda maksimum 50.000 ringgit, atau sekitar Rp 173 juta.

Jayavartiny langsung membantah tuduhan tersebut. Meski, dia mengaku kalau mengetahui bahwa Adelina datang tanpa izin resmi.

Pengadilan lanjutan dilaporkan bakal digelar 19 April mendatang dengan agenda laporan hasil laboratorium, forensik, dan post-mortem.

Sebelumnya, sehari sebelum meninggal (10/2/2018), Adelina tampak terlalu takut untuk merespons kehadiran tim penyelamat yang berupaya mengevakuasinya.

Dia hanya melirik dan menggelengkan kepala.

Sementara anjing jenis Rottweiler berwarna hitam yang terikat tali dan berada di sampingnya terus menyalak kepada petugas.

Tetangga rumah tersebut mengklaim perempuan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tidur dengan seekor anjing di beranda rumah selama sebulan terakhir, sebelum ditemukan pada Sabtu.

Menurut keterangan dokter, Adelina menderita memar di kepala dan wajahnya.

Dia juga menderita kegagalan multi organ sekundar akibat anemia.

Artinya, organ tubuhnya gagal bekerja karena kekurangan darah di tubuhnya.

Adelina meninggal di rumah sakit pada Minggu (11/2/2018).

Ambika dan Jayavartiny langsung ditangkap kepolisian Penang sehari setelah Adelina tewas (12/2/2018).

(Alvin/Tribun)


 Advertoria Sanford 18/9/2017