“Jangan Salah Menilai Outlet Subasuka Kupang” Ini Alasannya

Keprinews.co.id,KUPANG- Peristiwa kecil yang sempat menuai protes yang terjadi di Outlet Subasuka Kupang, Senin (14/2/2018) malam antara Customer Vino, Joki, dan Vian warga Sumba Barat Daya dan Satpam Subasuka bersama karyawan, memantik respon pihak manajemen Subasuka.

Pemimpin Utama Outlet Subasuka, Briando Pribadi Goatama mengatakan, sistem pengamanan yang diterapkan di Outlet Subasuka, pada hakekatnya menjaga kenyamanan Customer dari hal-hal yang tidak diinginkan bersama.

Pasalnya, semenjak Outlet Subasuka dibuka, setiap harinya selalu terjadi hal-hal ‘tidak menyenangkan’ yang dilakukan Customer. Dan kejadian itu terjadi 3-5 kali sehari. Hal ini, menjadi alasan keamanan di Outlet Subasuka Kupang diperketat.

“Saya sudah ingatkan Security, walaupun melaksanakan tugas sesuai sistem, tapi kalau ada pelanggan yang merasa tersinggung, harus minta maaf,” kata Brian.

Terkait insiden Malam Selasa tersebut, Brian mengatakan, hal tersebut hanya merupakan kesalah pahaman dan security Subasuka sudah berulang kali meminta maaf kepada yang bersangkutan.

“Setelah kami cek CCTV, ada satu Boneka yang struk pembayarannya secara tidak sengaja sudah dicopot. Dan karena security melihat tidak ada struk pembelian maka, Dia mengecek apakah sudah dibayar atau belum. Security menjalankan tugasnya sesuai sistem yang kami terapkan di sini,” jelas Brian.

Menurut Brian, pihaknya memaklumi jika seluruh masyarakat NTT, khususnya Kota Kupang belum bisa sepenuhnya menerima sistem pengamanan yang diterapkan di Outlet Subasuka. Sehingga pihaknya akan terus mensosialisasikan hal tersebut, agar tidak ada yang merasa terganggu atau tersinggung dengan sistem pengamanan tersebut. Pengamanan yang dilakukan, sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) keamanan Subasuka.

Selain itu, Komisaris Utama Don Putra Goatama mengatakan, pihak manajemen Subasuka tidak serta merta menerapkan sistem security yang mungkin berbeda dengan tempat lain. Hal ini beralasan karena Subasuka menerapkan sistem penjualan Display atau pajangan. Di mana barang dipajang bebas dan Customer bebas mengambil tanpa diawasi.

Namun dalam perjalanan, timbul hal-hal yang ‘tidak menyenangkan’. Pihak manajemen lalu memberikan pengawasan ekstra, untuk mengurangi hal-hal yang dibuat Customer yang dapat merugikan Subasuka.

“Jujur saya mau katakan, selama ini setiap hari ada saja 3-5 peristiwa tidak menyenangkan yang dialami Subasuka. Tapi demi kenyamanan Customer, kami tidak meladeni itu, apalagi melapor ke pihak kepolisian. Semua diselesaikan secara kekeluargaan,”kata Don Putra Goatama yang dikenal juga sebagai penderma di sejumlah gereja di Kota Kupang.

Don mengatakan, penerapan keamanan seperti penitipan tas, jaket dan helm secara gratis yang dilakukan, bertujuan agar pengawasan dapat dilakukan secara baik demi keamanan Subasuka dan kenyamanan Customer. Dan sistem pengamanan ini, tidak bermaksud menuduh, mencurigai Customer tetapi untuk menjaga kenyamanan dan keamanan saat berbelanja.

“Kami tidak menuduh Customer macam-macam. Tetapi ada kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di Subasuka dan hampir setiap hari, karena itu kami terapkan sistem itu. Kami mohon agar masyarakat bisa memahami ini. Kami sama sekali tidak punya niat buruk,” jelas Don.

Don berharap, masyarakat NTT khususnya Kota Kupang, tidak tersinggung dan merasa terganggu dengan sistem pengamanan di Subasuka. Pihak manajemen tidak punya niat untuk mengganggu kenyamanan Customer.

“Kami hadir di Kota Kupang untuk membantu masyarakat NTT, masyarakat ekonomi menengah, bukan untuk menyusahkan. Silahkan dibuat perbandingan, Subasuka menjual barang berkualitas dengan harga yang relatif murah yang bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah,”ungkap Don.

Menariknya, Subasuka telah menyerap tenaga kerja yang luar biasa banyak. Hingga kini jumlah tenaga kerjanya mencapai 300 karyawan. Dan karyawan yang dipekerjakan di Outlet Subasuka Kupang, semuanya berasal dari NTT bukan dari pulau Jawa atau pulau besar lainnya di Indonesia.

“Ini usaha kita orang NTT. Saya kecil dan besar di sini. Bangun usaha di sini, dan itu perjuangan yang tidak gampang. Dan sekarang, kami punya 300 orang karyawan, paling banyak orang Kupang Timor, Rote, Flores, dan Sabu,”, jelasnya.

Menurutnya, untuk meningkatkan kualitas dan kinerja para karyawan, setiap tahunnya manajemen Subasuka mengirim 50 orang karyawan ke Jawa untuk pelatihan sekaligus berlibur.

“Kita terus tingkatkan kualitas mereka. Tahun ini sekitar 70 orang akan kami berangkatkan, dan itu sekitar bulan Maret atau April. Kami tanggung semua biaya, tiket, penginapan bahkan uang saku kami berikan,”kata Don.

Penyumbang setia sosial ini mengungkapkan, Semua yang dilakukan Subasuka merupakan sebuah komitmen dan niat mulia untuk membantu masyarakat NTT.

(Alvin Lamaberaf)


 Advertoria Sanford 18/9/2017