NEWS VIDEO : Syarafina Naila, Putri pertama Mantan Direktur BP Batam Dwi Djoko Wiwiho Pengen Balik Ke Batam

KepriNews.co.id – Putri pertama Mantan Direktur BP Batam Dwi Djoko Wiwiho Syarafina Naila menceritakan kejadian menjadi korban propaganda kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) saat Diwawancari kantor berita BBC beberapa waktu lalu.

Tertipu kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Syarafina Naila ingin Balik lagi Ke Batam, Indonesia.

Sejumlah perempuan Indonesia dan anak-anak saat tiba di kamp pengungsian Ain Issa setelah berhasil melarikan diri dari Raqqa, kota yang dikuasai kelompok ISIS di Suriah, 13 Juni 2017.

Pemerintah sedang mencari tahu keberadaan 16 warga negara Indonesia (WNI) yang dikabarkan menjadi korban propaganda kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kini berada di kamp pengungsian di Ain Issa, Suriah. Nantinya mereka akan segera dipulangkan ke tanah air.

BACA JUGA WAK:  Status PPKM Level 1 di Kepri Diperpanjang hingga 8 November

Direktur perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan Kedutaan Indonesia di Damaskus, Suriah, sedang berusaha menyelidiki lokasi keberadaan mereka.

“Kita baru mengetahui dari media. Kita masih mengidentifikasi lokasi terakhir mereka, kita masih memerlukan koordinasi dengan aparat hukum dan intelijen untuk mendeteksi lebih lanjut,” katanya dilansir kepriNews.co.id dari laman AFP, kamis (22/06/ 2017).

Kantor berita AFP melaporkan sekitar 16 orang WNI, termasuk anak-anak, kini berada di kamp pengungsian Ain Issa, 50 kilometer utara Kota Raqqa. Mereka sebelumnya sengaja datang ke Raqqa, karena tergiur janji kehidupan sejahtera di bawah kekuasaan Daulah Islamiyah (ISIS).

Nur (19) salah satunya, memutuskan untuk meninggalkan Indonesia sekitar 22 bulan lalu untuk pergi ke Raqqa, daerah yang diklaim ISIS sebagai ibu kota negara kelompok itu.

BACA JUGA WAK:  Dukung Gaya Hidup Sehat, HARRIS DAY 2021 Hadirkan Kompetisi Lari Dan Balap Sepeda Secara Virtual

Ia mengaku tergiur pergi ke Suriah karena informasi yang diterimanya dari internet. Namun setelah hampir dua tahun berada di Raqqa, semua informasi yang diterimanya itu ternyata bohong.

“Saat kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet,” kata Nur kepada wartawan AFP.

Nur mengaku berangkat ke Suriah melalui Turki, bersama anggota keluarganya yang lain, termasuk ayah dan adik laki-lakinya.

Mereka sebelumnya diiming-imingi akan mendapat pekerjaan dengan gaji besar. Namun ternyata sampai di Raqqa mereka dipaksa menjadi milisi ISIS. Karena menolak, Ayah dan adiknya kini dipenjara dalam tahanan kelompok teroris tersebut.

Begitu pula dengan Leefa. Perempuan berusia 38 tahun itu memutuskan meninggalkan Indonesia karena melihat di internet bahwa “Daulah Islamiyah adalah tempat untuk tinggal, untuk menjadi Islam yang sesungguhnya”, selain juga karena ingin mengobati lehernya yang sakit, yang menurutnya biaya di Indonesia akan sangat mahal. Kata perekrutnya, di Raqqa biaya pengobatan gratis.

BACA JUGA WAK:  Pemerintah Pusat Asurasi Kesehatan Seluruh Nelayan

Anggota ISIS yang mengajaknya ke Suriah juga menjanjikan pengembalian biaya transportasi dari Indonesia ke Suriah.

Namun di Raqqa, ia diminta membayar biaya operasi yang tak sanggup ditanggungnya. Alhasil operasi leher Leefa tak pernah terwujud.

Iqbal mengatakan Kemlu akan memeriksa lebih lanjut identitas WNI tersebut dan mengusut dugaan keterlibatan mereka dengan kelompok ISIS.

“Kita akan verifikasi terlebih dahulu informasi itu dan akan kita teliti lebih lanjut. Saat ini pastinya belum dilakukan pemulangan, karena posisi mereka juga belum terkonfirmasi,” katanya. (Kepri News / Dede)